SELINGKUH SAINTISME – SEKTARIANISME

Hampir setiap Muslim di era postmodern ini, terutama kelas menengah yang tak akrab dengan tradisi kesantrian mulai menua dan resah dengan bayang-bayang dosa serta resah dengan “what’s next” ingin anak-anaknya menjadi lebih relijius dari dirinya demi menebus kelalaiannya dalam keberagamaan.

Bagi mereka yang terdidik dalam lingkungan modern dan sekular dan terbiasa dengan pola pikir empiris dan santifik, realitas adalah fenomena semata alias yang tampak. Karena terlanjur aplikasi empirisisme terlanjur terinstall dalam benaknya yang mestinya menafikan apapun yang tak tertangkap oleh indera eksoterik, seperti teologi dan agama, namun keberatan menanggalkan agama karena menjalaninya tanpa rencana, maka teologi dan agama pun “dipaksa” tunduk kepada empirisme dan diperlakukan sebagai fenomena.

Karena telah memperlakukan agama yang mestinya nomenal sebagai fenomenal, agama pun divisualkan dan dibonsai sebagai melulu simbol-simbol. Tawaran belajar tahdiz Quran secara gratis pun disambut karena nilai tinggi tajwid dan ketangkasan memanah (dengan dalih sunnah Nabi) bisa menggeser matematika, biologi, fisika dalam penerimaan sekolah dasar, menengah dan atas hingga jenjang tertinggi dan penempatan mulus di pelbagai instansi negeri dan swasta yang memang telah dikuasai sindikat ini.

Saat lulus dari pesantren tahfiz, putra dan putri itu sukses sebagai robot relijius. Kelak pada jenjang-jenjang berikutnya, berkat bimbingan kakak-kakak ikhwan dan akhawat senior dalam setiap liqo, diterima dengan di sekolah-sekolah favorit dan universitas negeri ternama dengan beasiswa, bahkan mungkin dipinang lewat jalur undangan juga kesempatan melanjutkan studi di Eropa dan AS. Di negeri-negeri super sekular itu, kakak-kakak sejamaah yang telah mapan di instansi-instansi perwakilan Pemerintah kita dan pelbagai kampus ternama akan membantu mereka dengan supervisi, tadrib lanjutan dan sebagainya termasuk rencana penempatan di beragam lini strategis, memburu di perguruan tinggi dari lektor hingga rektor, karir profesional di banyak badan usaha milik negara, perusahaan-perusahaan swasta asing dan domestik, kementerian, partai politik yang dikelola sejamaah, aneka LSM penggalangan dana musibah, mengelola sekolah-sekolah mahal berlabel SDIT dan lainnya yang telah “diamankan” dan disiapkan. Sedangkan yang lulus dari perguruan tinggi agama Saudi dan lainnya akan mengisi masjid-masjid di mall, di perumahan elit, di gedung-gedung pemerintah dan perusahaan swasta pusat-pusat pendidikan tahfiz di seluruh Indonesia atau menjadi pengelola situs-situs, pengelola persewaan domain, pemantau algoritma google, editor di wikipedia juga buzzer dan penggerak like dan unlike juga pelapor akun penentang mereka di medsos. Alhasil, mungkin hanya diskotik dan tempat wisata di beberapa daerah yang bebas dari mereka.

Dengan gaya komunikasi dan pergaulannya yang berubah, ayat dan hadis dipandang sebagai rangkaian huruf (kata) dengan makna denotatif semata tanpa konotasi, doktrin instruktur halaqah dianggap sebagai wahyu susulan, bulu-bulu baik lebat maupun beberapa helai yang dibiarkan menjalar liar di dagu dianggap semacam brand kemusliman, busana ala Taliban di Kandahar dan semua produk industri tekstil islami menggeser jiwa, tanda di dahi menjadi semacam barcode kesalehan dan kekakuan dalam batas shalat pun dianggap sebagai stempel ketakwaan.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed