Setelah Abstain di DK PBB, SBY ke Iran: Bukti Indonesia Tak Tunduk AS

Presiden SBY meninggalkan Indonesia, Senin (10/3/2008), dalam rangka kunjungan kenegaraan ke empat negara.  Iran adalah negara pertama yang dikunjungi.

Ada 7 persetujuan kerja sama bilateral RI-Iran yang akan ditandatangani dalam kunjungan kenegaraan Presiden SBY ke Teheran, Iran. Mulai bidang pertanian, teknik, kepemudaan, koperasi, energi, pertambangan sampai pendidikan.

Di bidang teknik, ada nota kesepakatan kerjasama antara Badan Standardisasi Nasional (BSN) dengan Institut Riset Standar dan Industri Iran (ISIRI).

Sementara untuk energi dan tambang ada 2 nota kesepakatan. Yaitu pembentukan Joint Business Council antara KADIN RI dan Kamar Dagang, Industri dan Pertambangan Iran (ICCIM), kemudian shareholders agreement antara Oil Refining Industries Development Company (ORIDC) Iran dengan PT Pertamina dan Petrofield Refining Company (Indonesia).

Kesepakatan yang terakhir terkait niat pihak investor Iran membangun fasilitas kilang dan pelabuhan minyak di Tuban, Jawa Timur. Rencananya minyak mentah yang akan diolah di sana datang dari Iran dan ladang Cepu.

Sementara itu anggota Komisi I DPR menilai kunjungan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono ke Iran pekan depan dilakukan untuk membuktikan Indonesia tidak berada di bawah ketiak AS.

“Kunjungan presiden ke Iran, bisa memulihkan kembali hubungan harmonis RI – Iran, karena sikap Indonesia yang mendukung resolusi sebelumnya, ” kata Anggota Komisi I dari Fraksi Partai Amanat Nasional Dedy Djamaluddin Malik menanggapi `keberanian` Presiden SBY berkunjung ke Iran pada 10 hingga 16 Maret mendatang, pasca keputusan Indonesia hanya menyatakan abstain, dalam voting resolusi ketiga pemberian sanksi kepada Iran terkait isu pengembangan energi nuklir.

Menurutnya, kunjungan ini pun bisa bermakna, Indonesia tidak mau dicap sebagai negara dengan penduduk mayoritas Islam terbesar di dunia yang berada di bawah kendali AS.

“Kita harus ubah citra itu. Bahwa kita tidak berada di ketiak AS yang menjatuhkan sanksi untuk ketiga kalinya kepada Iran, ” tegas Dedy.

Sementara itu, Anggota Komisi I FPDIP Andreas Pareira menambahkan, kunjungan Presiden Yudhoyono tersebut nampaknya terutama sebagai balasan atas lawatan Presiden Iran ke Indonesia tahun lalu.

Menurutnya, dari sudut kepentingan Indonesia, Indonesia memang perlu mempererat hubungan dengan Iran, sebab di bawah kepemimpinan Presiden Ahmadinejad kelihatan akan mengarah menjadi kekuatan utama di kawasan Timur Tengah.(dihimpun dari antara, detik, okezone dll)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

7 comments

  1. Kok nagih-nya cepet banget seehhh ….
    Sekali2 kalo berbuat itu lillahi Ta’ala gitu lho ?!

    Tapi gak usah kuatir,…
    Iran pasti bayar CASH pake minyak.
    Anything you need Mr. President’te !

  2. YAaaaaaaaaaaaaaaaa Alllllllllllllllahhhhhhhhh bihaqqqi Muhammad waa’lih , semoga ….segera terealisasi kerjasama Indonesia yang Mayoritas Suni dengan RII yang Mayoritas Syiah.

    Sehingga kelak di Head Office Jakarta dan Tehran kita dapat menyaksikan pada Mushola di kantor tersebut ….ragamnya Umat Muhammad sholat dengan tangan lurus berbaur dengan tangan sedakep tanpa ada kecanggungan dan waswas …….. Yaaaa Jabbar yaaaa Karimmmmm Adrikknaaaaa >>>

  3. Satu babak yang mencerahkan bagi indonesia, semoga mata air bening ilahi di Persia dapat mengalir kesungai-sungai yang keruh kerontang di sanubari muslim Indon. Dan semoga juga cahaya pencerahan yang menyeruak di langit-langit Iran akan merobek hijab-hijab kelam pada akal manusia indonesia…

    Semoga hubungannya langgeng dan berjaya….!!!

  4. Sekalian RI dan RII kerjasama untuk bikin senjata nuklir trus habisi tu amerika and konco-konconya biar mereka gulung tikar

News Feed