SIAPA MUSLIM SIAPA ISLAMI

Yang ideal memang pemimpin muslim yang islami tapi itu mungkin nyaris seperti gagak albino.

Memaksa hanya dilakukan oleh orang yang tak punya kemampuan meyakinkan orang lain dengan cara beradab.

Cara mudah mempermalukan diri adalah melakukan kekerasan.

“Kekerasan tidak lain adalah komunikasi bisu par excellence” (Hannah Arendt)

Makin memaksakan kehendak dengan kekerasan makin nyata kekerdilannya.

Apa jadinya bila pemilihan diganti dengan pemaksaan, dialog diubah dengan pengkafiran dan argumentasi dilawan dengan doktrin?!

Pelemparan batu dan penyerangan adalah kekerasan fisik yang bisa diatasi cepat. Tapi penyesatan dan pengkafiran adalah kekerasan stuktural.

Berhaji dengan uang haram (hasil korupsi) bukan hanya tidak berpahala tapi juga berdosa. Yang lebih berdosa adalah korupsi dana haji.

“Tidak beriman orang (muslim formal) yang tidur kenyang saat tetangganya lapar.” Seorang Muslim (formal) belum.tentu “mukmin” (secara sosial)

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah menghormati tamunya”. Muslim formal yang tak menghormati tamu bukan mukmin secara moral.

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah memuliakan tetangganya.” Muslim visual yang tak menjaga hak tetangga adalah kafir sosial.

Muslim “formal” yang nyolong dana haji umat itulah yang layak diusir dan dilempari.

Muslim yang korup lebih buruk dampaknya bagi umat Islam daripada non muslim yang korup, apalagi non muslim yang anti korupsi.

Orang bersedekah dengan pamrih lebih berguna dari orang yang ikhlas kikir.

Orang yang terlihat arogan dan jujur lebih mulia dari orang yang terlihat ramah tapi pendusta.

Orang yang berdahi hangus dan bercelak mata tidak niscaya lebih disukai publik dari yang berdahi klimis dan bermata mungil.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed