Skip to main content

Beberapa hari lalu OB di kantor tempat saya numpang tidur menghadap saya dengan wajah tegang, “Apa mungkin dia kalah dalam pilpres?” Rupanya dia risau setelah mendapatkan kiriman aneka berita (fact atau fake), tulisan dan video yang menyudutkan tokoh yang disanjungnya, terutama setelah mendengar berita rencana aksi bertitel angka samudera manusia yang diperkirakan akan menenggelamkan Jakarta.

Ini adalah pertanyaan sederhana, tapi jawabannya kompleks. Saya menghadapi dilema. Di satu sisi saya harus memberikan jawaban realistis dengan ‘mungkin saja”. Di sisi lain saya bisa memastikan dia ingin saya menjawab “tidak mungkin”.

Banyak orang di negara ini mengalami stress politik seperti OB itu menghadapi masalah pemilu terutama pilpres. Mereka terjebak dalam polarisasi dan sangat antusias mengikuti kontestasi politik mendatang ini, bahkan mungkin lebih antusias dari kontestannya. Berita dan gosip politik juga acara-acara talk show seputar pilres telah menjadi semacam sembako dan menggeser berita serta gosip artis kawin, tersangka menggunakan narkoba, korupsi, selingkuh dan lainnya.

“Begini, pertanyaan kamu bisa dijawab dengan dengan mungkin dan tidak mungkin,” jawabku berusaha menenangkannya.

“Kok bisa begitu?’ tanyanya dengan lirikan tak percaya.

“Dia mungkin saja kalah. Dalam dunia makhluk apalagi dalam politik, kejutan bukanlah kejutan. Orang yang menurut semua survei mendapatkan elektabilitas tertinggi karena fakta kinerjanya bisa terjungkal dan kalah di detik-detik jelang pemungutan suara karena badai agama Tau kan maksud saya?”

“Badai agama? Apa itu pak?”

“Itu kiasan kampanye besar-besaran mempersoalkan keyakinannya yang tak dianut mayoritas warga.”

“Oww… Itu. Ya, saya paham. Kasian ya pak?”

“Begitulah, calon kuat yang kamu jagokan juga bisa terjungkal kalau terus-terusan digempur dengan hoax, tuduhan dan sebagainya.”

Adam manggut-manggut bergaya serius seperti orang-orang yang sering ditontonnya di tipi.

“Kalau jawban tidak mungkin bagaimana pak?”

“Sebelum saya jawab, bikin kopi dulu”

“Siap. Seperti biasa kan?”

“Ya”

Dia tahu saya suka kopi manis.

“Lanjut, pak!”

“Kalau syarat-syarat menang sudah terpenuhi, dia pasti menang,” paparku sambil senyum.

“Ya iya laahh! Hedeuhhhhh” sahutnya berseloroh.

“Lho… Kenapa?”

“Saya cepet-cepet bikin kopi untuk dengar penjelasan panjang, pak…”