SILAKAN MEMBANTAH TULISAN DENNY SIREGAR TANPA MENYERET MAZHAB

Denny Siregar dikritik habis oleh seseorang dalam sebuh tulisan karena pernyataannya tentang motif massa yang berjubel di Bandara Soeta (SHIA) pada 10 November lalu bisa menjadi sesuatu yang menarik, apalagi mengkritik pandangan siapapun pada dasarnya merupakan hak individu yang harus dihormati. Tapi yang tidak menarik adalah argumentum ad hominem. Menyeret nama Syiah, bahkan menyebutnya Kader Syiah dalam judul terkesan ingin publik teragitasi dan menghubungkan pandangan dan sikap DS terhadap seorang tokoh dengan Syiah yang menurut penulis dianut oleh Denny Siregar

Generalisasi stigma negatif dan menghubungkan sebuah aksi personal dengan keyakinan banyak orang, terutama mazhab yang kerap disesatkan bisa dianggap genosida logika yang berbahaya. Sembari tetap mengafirnasi hak mengkritik, tulisan tersebut perlu diapresiasi dengan pelurusan serius.

Pertama : Andaikan Denny Siregar memang mengaku bermazhab Syiah, maka pandangan dan pernyataannya tidak berhubungan secara langsung dan tidak langsung dengan Syiah. Hal itu karena dalam komunitas Syiah setiap individu bebas dengan pertanggungjawaban personal dalam menyikapi dinamika politik dan sosial di Tanah Air. Tetbukti, banyak individu yang dikenal bermazhab Syiah berbeda pandangan dan sikap dengan DS terkait subjek yang sama.

Kedua : Andaikan DS memang bermazhab Syiah, maka dia bukan representasi komunitas Syiah di Indonesia. Individu-individu Syiah punya dua sistem kepatuhan; vertikal berdasarkan asas legitimasi vertikal dan kompetensi intelektual (ilmu-ilmu agama seperti fikih dan ushul fikih) yang ketat dan tidak dipengaruhi oleh pendapat individu yang kompeten dan tidak legitimed; horisontal yang dibangun diatas kontrak yang mengikat pihak-phak yang menyetujuinya.

Ketiga : Menyatakan setuju atau mendukung dan menentang pandangan politik dan gerakan sosial seseorang atau kelompok tak niscaya merupakan turunan dari agama yang dipeluk dan mazhab yang dianut.

Keempat : Tak seorang pun berhak menetapkan seseorang, termasuk DS, sebagai Syiah atau Sunni selain dirinya. Itu adalah hak asasi yang harus dihormati. Keyakinan berupa agama dan mazhab adalah pilihan setiap orang. Karenanya, stigmatisasi merupakam agresi.

Kelima : “Kader Syiah” terlalu berat buat DS. Setiap orang yang bermazhab, termasuk yang dianggap dedengkot lebih memilih gelar jelata karena konsekuensi moral dan spiritualnya lebih ringan.

Keenam : Karena terlalu remeh, pandangan dan judgment “sotoy” penulis artikel itu terhadap Syiah tak perlu ditanggapi. Itu justru bisa membuat pembaca kritis penasaran dan melakukan crosschek dan tabayyun. Sangat mungkin, tokoh yang hendak dibelanya tak sependapat dengan dia tentang Syiah

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed