SORGA INTOLERANSI

Selama beberapa tahun sejak reformasi negeri ini bisa dianggap sorga toleransi ketika masyarakat sadar kebangsaan dan kebhinekaan sebelum 9/11 yang mengawali gelombang takfirisme yang melanda dunia Islam.

Sejak saat itu takfirisme menginfasi dunia Islam. Intoleransi menjalar dan para pegiat khilafah merambah dan menguasai lini-lini penting dengan memanfaatkan kerja kolektif dan sistematis.

Antara lain :
1. Mendirikan pesantren-pesantren dengan nama tunggal seperti Al-Islam, Al-Islah dan lain yang menyamar sebagai pesantren NU.
2. Mendirikan masjid-masjid megah dan penuh kegiatan taklim di kawasan padat penduduk atau mengambil alih masjid NU.
3. Mendirikan lembaga-lembaga berpapan panti asuhan
4. Menawarkan pendidikan tahfiz secara gratis di berbagai daerah.
5. Mendirikan LSM-LSM pencari sumbangan untuk korban bencana, zakat, infak, qurban.
6. Mendirikan lembaga-lembaga bimbingan belajar.
7. Mendirikan sekolah-sekolah berpapan “Islam Terpadu” untuk kelas menengah.
8. Membuat jaringan bisnis herbal, jasa bekam dan terapi ruqyah.
9. Mendirikan lembaga-lembaga pendidikan bahasa Arab gratis.
10. Menyelenggarakan beragam event bernuansa anak band, underground dan generasi millenial.
11. Menguasai bisnis persewaan server untuk hosting web.
12. Mengusai bisnis penerbitan buku, mendominasi semua acara book fair.
13. Menginisiasi perkumpulan anak-anak pendaki, airsoft gun, touring dll
14. Menyelenggarakan home schooling dan sekolah swasta full day.
15. Menguasai masjid dan musolla di gedung instansi pemerintah, perkantoran, perumahan elit, mall, bandara dan rest area.
16. Menguasai struktur kekuasaan di perguruan tinggi terutama negeri.
17. Pengguna dana sosial CSR di hampir seluruh perusahaan.
18. Menternak buzzer relawan dengan banyak video, situs dan akun fb, twitter, IG, youtube dan semua platform medsos yang aktif share, comment, like, unlike demi mendorong trending topic juga kontra trending topic, mentenarkan figur dan report akun pihak lawan, mengusai admin edit wikipedia, dan pemantau SEO dan algoritma.

Sedangkan kelompok yang jadi target utama sebagian asyik jadi penonton dan saling menunggu atau berdiam demi menghindari risiko, atau sibuk bermedsos secara individual karena enggan bekerja kolektif atau sebagian malah tak menganggapnya sebagai bagian dari taklifnya, tak mensupport dengan caranya masing-masing, malah fokus merecoki sedikit relawan yang sudah all out terjun.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed