STOP PEMAKSAAN AGAMA MAYORITAS!

Beberapa ustadz dan aktivis ormas keagamaan memamerkan simpati kepada suku yang diabaikan dengan berpose bersama sejumlah bocah yang terlihat telah berpindah agama.

Menunjukkan simpati kepada suku yang diabaikan bukan mengubah agamanya. Simpati yang tulus tak didasarkan pada kesamaan keyakinan namun didasarkan pada kemanusiaan dan kebangsaan seraya tetap menghargai keragaman agama.

Bersikap baik hanya kepada yang sekeyakinan justru mengindikasikan lemahnya etika kemanusiaan dan spirit kebangsaan bahkan mencerminkan diskriminasi.

Mindset “seagama adalah teman” dan “musuh adalah yang tak seiman” adalah produk doktrin nirlogika yang telah dipaksakan menjadi ajaran agama.

Manusia Indonesia yang betlogika berpikir dan bersikap kebangsaan saat berinteraksi dengan sebangsa apapun suku, daerah dan agamanya.

Bila berkeberatan terhadap kristenisasi, mestinya menolak pula islamisasi. Pemaksaan keyakinan dalam negara yang berdiri di atas sebuah asas yang merangkul semua agama adalah ironi.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed