Skip to main content

SUAMIMU BUKAN RAJA, ISTRIMU BUKAN RATU

By November 8, 2016No Comments

Sebagian besar kegelisahan bersumber dari kerancuan memaknai “kebahagiaan”.
Kerancuan memaknai “kebahagiaan” timbul karena memastikan kebahagiaan sebagai sebuah capaian.
Memastikan kebahagiaan sebagai sebuah capaian adalah akibat dari hilangnya self respect atau penghormatan kepada diri.
Kebahagiaan bukanlah capaian tapi kesadaran akan kehormatan diri sebagai manusia dan sebagai makhluk unik yang diciptakan oleh Allah.
Anda adalah manusia. Kemanusiaan anda, bahkan kedirian anda adalah identitas substansial. Posisi anda sebagai istri atau atau lainnya adalah predikat temporal. Kedirian anda tidak dipengaruhi itu. Eksistensi tidak ditegakkan oleh atribut-atribut dan klaim serta strata sosial anda.
Mensyaratkan kebahagiaan pada orang lain, anak atau istri atau suami berarti menukar karunia kedirian/kemandirian dengan kehambaan horisontal atas nama status artifisial dan temporal.
Kelak di hari kiamat setiap orang lari meninggalkan saudaranya, ibunya, ayahnya, pasangannya juga anak-anaknya karena sibuk dengan nasibnya.
يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ * وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ
“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. (‘Abasa: 34-36).
Suami anda bukan raja. Istri anda bukan ratu. Anak2 anda bukan rakyat jelata. Setiap diri bertanggungjawab atas setiap perbuatannya di hadapan penciptanya. Anda bukan tuhan dan bukan hamba bagi selain Pemilik anda.