SUARA PARAU PADA RABU TERAKHIR SHAFAR

Suaramu yang parau meminta selembar kulit dan setangkai pena saat terbujur lemah di atas pelepah korma dalam bilik rumahmu bergema menembus lorong-lorong waktu dan mengiang dalam sanubari para pecintamu hingga akhir zaman.
 
Ucapanmu yang meluncur dari bibir pucat kering beriring napas lalu tertelan bising hiruk pikuk tamu-tamu tak diundang dan disambut celoteh “dia meracau” mengguncang dada para pecintamu dari masa ke masa.
 
Teriakanmu yang terjeda debam-debam batuk “pasukan Usamah harus bergerak!” tak bersambut pekik “siap”, seolah bukan komando bagai panglima tertinggi terlucuti dari kuasanya, sungguh mencabik-cabik sanubari para pecintamu sepanjang usia dunia.
 
Isak tangis puterimu yang mendekap,, merawat, menyeka peluh di wajahmu yang pasi dan memijat tanganmu yang lemas sungguh mengiris-iris batin para pecintamu generasi demi generasi.
 
Jangan kecewa!
Pekikmu dan desah napasmu yang tersengal saat berdiri dan mengangkat tangan kanan murid utamamu sepulang dari Hajjatul Wada’ bergaung senantiasa dalam dada kami.
 
Bunyi lumbung saat kau menumbuk gandung terdengar merdu di telinga kami.
 
Atap pelepah korma rumahmu yang sangat sederhana terasa teduh di atas kepala kami.
 
Rintihan kedua cucumu yang sakit menahan lapar sungguh meremukkan hati kami.
 
 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed