Tak kenal, maka tak benci

Tak kenal, maka tak benci
Photo by Unsplash.com

Biasanya, saya sering denger kata-kata, tak kenal maka tak sayang, karena sesuatu yang layak untuk disayang kadang-kadang tidak tereksplore karena tak dikenal. Begitu juga sebaliknya, menurut saya, kadang-kadang sesuatu yang patut dibenci tidak dibenci karena tidak dikenali. Maksudnya adalah, kalo nggak cukup kenal maka pasti nggak benci deh. Begini ceritanya...

11Juli 2006, pertama kali saya datang ke Malaysia. Begitu terpukau dengan infrastruktur yang megah, dari mulai airport KLIAnya saja sudah WAW.., shuttle train yang menghubungkan antar terminal, begitu spektakuler, jauh dari bayangan saya, kok Malaysia bisa ya??Timbul rasa sedih mengapa Indonesia tidak bisa seperti Malaysia. Saya bangga dengan negara tetangga. Ternyata bisa juga, dan saya yakin kalo Malaysia bisa, Indonesia pasti juga bisa, tinggal tunggu waktu. Kekaguman saya tidak berhenti sampai saya meninggalkan KLIA. Setelah itupun decak kagum terus menerus saya lontrakan.Segala sesuatunya yakni dari mulai transportasi publik, jalanan, gedung, dll sudah sangat rapi. Saya ingin kembali!!!! Balik dan bekerja di Malaysia (dasar TKW!!!)

14 Agustus 2006, Senangnya balik lagi ke Malaysia untuk bekerja. Saya yakin hidup akan menyenangkan disini. Negara tetangga, ras serumpun, kota yang relatif rapih dan bersih, begitu menyenangkan dalam angan-angan dan harapan saya!!!

Kanyataan... ternyata kenyataannya jauh dari bayangan yang ada di benak saya. Hari demi hari saya makin mengenal negara ini, kota ini. Semakin saya mengenalnya, semakin saya membencinya. Dari mengawali hari-hari, seringkali rasa sakit hati yang muncul. Misalkan ketika menunggu bus, dan karena pada awalnya layaknya orang baru, pastilah saya akan bertanya tentang informasi transportasi. Ketika bertanya dengan supir bus, pertama saya kaget sekali, dia tiba-tiba membentak saya, marah-marah dan tidak menjawab, lalu langsung menutup pintu busnya! Anjing gak sopan! supir metro batak aja gak pernah gituin gw!!!! Dan hari-kehari saya semakin tahu, entah hobi entah karakter mereka memang tidak ramah dan tidak sopan. Karena bukan itu saja, perilaku ini juga menjadi momok bagi supir taksi di Malaysia. Sudah 1000juta kali saya dimaki-maki, diturunkan supir taksi di tengah-tengah antah berantah, ditanya hal-hal jorok, pokoknya GILAAAAAAAAAAA! !!!!!!!!! Tidak akan ada
habisnya nyeritain supir-supir taksi yang sakit jiwa. Dan mereka juga seneng banget nggak pake argo!!

Hal lainnya adalah Stereotiping orang INDON. Sudah 1000juta kali percakapan dengan orang Malaysia, mereka menduga saya orang sabah/philipin. Karena dialeknya aneh, tapi pakaian saya tidak seperti orang indon (mereka menstereotipekannya dengan pembantu rumah tangga, buruh, dan pekerja sektor informal lainnya). Lantas kalopun iya, apa salahnya??? Kenapa mereka begitu merendahkan? Seolah-olah kalopun iyah, TKI itu hal yang najis. Padahal demand pekerja disektor ini begitu besar! Dan pekerja disektor ini juga banyak dari Bangladesh, India dan sebagian kecil Vietnam. Lantas kenapa dengan Indonesia ??? APa salahnya??? Kenapa mereka begitu underestimated? ?Begitu jijik?? Begitu merendahkan? ?

Bagi mereka yang tinggal dan cukup lama di Malaysia, pasti benci dengan negara ini. Selama ini belum pernah saya menemukan ada orang Indonesia yang tinggal di Malaysia dan menyayangi Malayasia. Bahkan begitu juga dengan teman-teman saya yang menikah dan memiliki anak warganegara Malaysia. Mereka memiliki perasaan yang sama, yakni benci dengan karakter orang Malaysia ( Bukan benci anaknya lho)

Tulisan ini bukan untuk menyebarkan kebencian, tapi sekedar black campaign untuk orang-orang Indonesia yang gemar belanja Vincci ke sini. Stop berikan income pada Malaysia. Mereka hanyalah bisa memandang Indonesia dengan sebelah mata dan memicingkannya serta mengrenyitkan dahi sambil berfikir "bodohnya orang Indonn!!).

Saya ingin menceritakan banyaknya perlakuan ketidakadilan dan hal-hal yang sangat merendahkan oleh rakyat Malaysia, tapi apalah daya, terlalu banyak, nanti pada bosen. Pokoknya indikatornya adalah, Indonesia telah diangkat sebagai Dewan HAM pada 2007, sedangkan Malaysia telah di black List oleh PBB karena ketidakseriusannya menangani migrant worker dan pelanggaran HAM terhadap buruh migran tersebut (Orang-orang Indonesia) yang ada di Malaysia.

Pemerintahnya pun, melalui sensor media (berita-berita yang dikontrol pemerintah di Malaysia) terlihat sekali pemerintah Malaysia membenci Indonesia. maka pandangan rakyatnya terbentuk melalui berita-berita media itu, yang isinya tidak jauh dari, Indon Rampok, pekerja seks, dllllllllll. SETIAP HARINYA!!!! Tidak berdasarkan FAKta HANYA DUGAAN, Contoh, jika terjadi kriminalitas seringkali ada kata-kata "diduga orang indon". Padahal baru dugaan, dan katanya mirip orang Indon, emangnya kita bukan dari ras Melayu?? Gimana bedainnya???

Selain itu rakyat kita yang datang pada tahun 60-an untuk membantu Malaysia membangun kotanya yakni Kuala Lumpur, kini banyak yang stateless. Mereka yang diterima dengan tangan terbuka tanpa dokumen, diberikan SAP, surat akuan paspor dan diberikan IC merah tapi banyak yang meminta kewarganegaraan ditolak. Setelah Malaysia maju, mereka semua yang memiliki IC merah, bisa memperpanjang ICnya jika memiliki paspor (BUKAN SAP), Lantas bagaimana bisa, mereka sudah diberikan SAP, sudah lebih dari 5 tahun tidak memiliki paspor di luarnegeri, maka kewarganegaraan Indonesianya telah hilang, tidak bisa bikin paspor Indonesia lagi, dan Malaysia menuntut mereka harus memiliki paspor untuk memperpanjang IC. Bukankah itu tindakan yang luarbiasa jahat dari pemerintah MALAYSIA?? Setelah mereka membantu Malaysia membangun???

Selain itu seringkali saya mengalami kejadian aneh. Bagi anak-anak TKI jika ingin bersekolah di sekolah Malaysia harus mengisi formulir bukan warganegara. Lucunya ini juga sering terjadi bagi anak-anak TKI yang telah memiliki kewarganegaraan Malaysia. Mereka disuruh mengisi formulir bukan warganegara dan meminta surat dari kedutaan yang menyatakan mereka warganegara Indonesia, padahal mereka berpaspor merah. Sering saya tekankan pada orang tuanya bahwa anaknya itu warganegara, prosedurnya harus sama dengan warganegara lainnya. Saya suuruh gurunya membaca formulir itu, sambil saya garis bawahi tulisan FORMULIR BUKAN WARGANEGARA. Kata mereka, mereka telah mempertanyakan itu pada pihak sekolah, tetapi yang ada dimarahi dan disuruh ikuti prosedur. ANEH!!!! GAk bisa baca apa emang jahat banget sih!!!

Hmm saya rasanya belum cukup menceritakan hal-hal lainnya, yang jelas, kenali dululah sebelum memutuskan sayang, atau benci, suka atau tidak. Kalo hanya jalan-jalan, sekali-sekali datang, hanya tinggal di singapur atau tinggal di thailand kek dan punya temen banyak di Malaysia, jangan dulu ngomong sebelum tinggal disini. Saya juga punya banyak temen Malaysia, mereka kalo person to person emang oke banget, tapi kalo soal kerjaan..ck. .ck,,,ck, ,, gw bingung kok bisa maju.

(Ditulis oleh seorang wni yang kerja di malaysia. namanya tidak disebutkan dan dikutip oleh Satrio Arismunandar di milist jurnalisme)

Read more