Skip to main content

Hitam dan Merah

By December 25, 20113 Comments

Rencananya, mulai 2008 saya ingin menambahkan sebuah teks baru di lembar samping (side bar) blog saya, yaitu ”Komentar Utama’ yang menampilkan nama pemberi komentar paling menarik terhadap salah satu artikel di go-blog. Tapi karena perlu tanggapan panjang, maka saya jadikan sebagai ojek kajian dalam sebuah artikel. Semoga komentatornya merelakannya.

Pekan ini yang layak dianggap ‘Man of the Match’ adalah Sdr. Ressay alias Cut Yasser atawa Yaser Arafat yang mengomentari artikel ‘Tanggal Merah’.

Komentarnya sebagai berikut:

“Adalah Lain orang, lain pemikiran juga. Ada beberapa pengikuti Sufiyyah yang mengatakan bahwa ngapain sih kita bersedih? seharusnya kita malah berbahagia. karena Imam Husain pun berbahagia karena dia telah meraih kesyahidan dan berjumpa dengan kakek, ayahanda, ibundanya, serta kakaknya.

Bagaimanapun kita menyikapi peristiwa karbala ini, pasti masing-masing orang yang berbeda pendapat mengenai penyikapan ini mempunyai satu kesepakatan bersama. bahwa ada hikmah di balik peristiwa karbala ini.”

Tanggapan saya sebagai berikut:


Sejauh pemahaman saya, nampaknya Ressay ingin menjaga keseimbangan dengan memberikan sebuah perspektif lain tentang peristiwa Asyura. Tanpa perlu menanyakan lebih lanjut aliran shufiyyah yang mana dan siapa saja tokoh-tokohnya yang dimaksud, saya tentu sangat gembira dan berterimakasih.

Memang benar, dari satu sisi, kesyahidan Imam Husain beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya adalah sebuah anugerah yang membuatnya istimewa di mata kita. Tapi bagi selain mereka, ia semestinya dipandang sebagai sumber duka dan gelora.

Benar, tragedi Asyura tentu tidak hanya untuk diratapi, namun juga untuk diresapi. Asyura tidak hanya hitam tapi juga merah. Ada duka dan ada marah. Tragedi kemanusiaan terbesar dalam sejarah umat Islam  ini  tidak semestinya diperlakukan hanya sebagai sebuah penggalan sejarah semata yang melulu menjadi tema diskusi klasik dan objek ratapan semata, apalagi diabaikan dan dicemooh karena dianggap menghidupkan dendam. 
 
Al-Husain menyambut syahadah itu dengan hati berunga dan mata berbinar, sebagaimana sesumbarnya “Jika kematianku adalah tumbal dan syarat bagi tegaknya agama Muhammad, maka, hai pedang-pedang, ambillah aku!”. Yang perlu untuk diratapi adalah kebenaran dan keadilan yang menjadi tujuan pengorbaban dan prinsip Al-Husain. Teriakan al-Husain “Tidakkah kalian lihat kebenaran telah diabaikan dan kepalsuan tidak lagi dicegah!!” itulah yang membuat kita larut dalam duka dan gelora sebagai bekal energi melawan lusinan Yazid yang terus mengalami up-date seiring dengan bergulirnya daur waktu. 
 
Karbala dimana saja! Asyura kapan saja!