TATA KRAMA DAN AKHLAK

Tadi siang saya menjadi tamu teman lawas, Asmawi di dusunnya. Usai nyereput kopi pahit suguhannya, di mengajak saya melihat-lihat hewan-hewan yang mondok di bagian belakang rumahnya dan setelah mendengarkan penjelasannya tentang proses pemanfaatan rumput gajah, terong dan lainnya sebagai pakan bagi sapi, domba dan ayam juga pemanfaatan limbah kotoran hewan-hewan itu untuk pupuk. “Ini proyek mutualisme perkebunan dan peternakan,” ujarnya. Saya terharu karena dia menjelskan aktivitas hariannya secara detail dan telaten kepada saya seperti seorang menteri di hadapan presiden yang sedang meninjau.. Saya manggut-manggut bukan lantaran paham tapi demi memenuhi tuntutan etika kesopanan sambil berharap Tuhan menganugerahkan pahala karena berusaha menyenangkannya.

Belum habis rasa kagum saya, tiba-tiba Asmawi melontarkan pertanyaan yang terkesan tak relevan dengan tema peternakan dan perkebunan. ‘Apakah adab berbeda dengan akhlaq?

Saya sempat diam beberapa detik karena harus cepat pindah slot nalar demi proses adaptasi dalam waktu sesingkat-singkatnya sebelum menjawab.

“Adab berbeda dengan akhlak. Ia adalah perilaku lahir yang disepakati sebagai kesopanan oleh sebuah masyarakat secara temurun berupa tradisi dan budaya yang terlihat secara visual dalam gerak fisik saat berinteraksi dengan orang lain. Adab adalah norma perilaku individu yang lintas agama, berkonteks sosial, lokal dan temporal.”

Bersambung

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed