TERORISME DAN PROVOKASI MIMBAR

Hanya iblis dan penyembahnya yang membenci tempat penyembahan Tuhan.

Terorisme bersumber dari ekstremisme. Ekstremisme bersumber dari Intoleransi. Intoleransi bersumber dari benci. Benci bersumber takut. Takut bersumber dari rasa terancam. Rasa terancam bersumber dari pengerdilan diri.

Terorisme adalah aksi menggiring masyarakat meninggalkan bahkan membenci agama. Terorisme harus diluaskan maknanya mencakup ujaran kebencian via lisan, tulisan, mimbar dan aksi jalanan.

Saling cemooh seputar isu politik antar warga berpotensi mengalihkan kewaspadaan terhadap ancaman terorisme.

Baguslah! Tokoh-tokoh penyebar intoleransi mulai ikut memberikan pernyataan mengecam aksi teror.

Tapi kita tak perlu mengelak. Pelaku teror itu adalah penganut Islam yang dicampur dengan doktrin intoleransi dan pengkafiran.

Tak perlu menampik. Sejumlah agamawan rajin menyebarkan ujaran kebencian kepada penganut mazhab lain, apalagi penganut agama lain.

Tak perlu berkelit. Sebagian pihak selalu memprovokasi umat dengan menuduh Pemerintah dan aparat memojokkan umat Islam.

Tak perlu menutup-nutupi. Sebagian tempat ibadah dan acara-acara keagamaan dijadikan sebagai pusat penyebaran kebencian dan ajakan intoleransi.

Mari kita tinggalkan Islam yang dicampur dengan doktrin intoleransi dan menganut Islam yang selaras dengan akal sehat dan bersih dari doktrin intoleransi.

Dari perspektif lain, pelaku teror adalah korban indoktrinasi teologi benci para instrukturnya. Karena itu, melawan terorisme harus dimulai dari menumpas ujaran benci.

loading...