The Da Peci Code: Kritik atas Eksploitasi Simbol?

Novel ini berkisah tentang konflik internal dalam sebuah keluarga berlatar belakang budaya Arab-Betawi. Konflik berawal dari perbedaan pandangan antara seorang anak muda dengan ayahnya dalam menyikapi tradisi yang tumbuh dalam lingkungan keturunan Arab marga al-Gibran. Tradisi yang menjadi sumber konflik itu, tak lain adalah tradisi berbusana yang sudah berumur ratusan tahun: tradisi mengenakan peci putih. Sebuah tradisi yang erat kaitannya dengan simbolisasi agama.

Mansur al-Gibran; sang ayah, risau melihat Rosid; anak lelaki satu-satunya, tak pernah sudi memakai peci putih. Dengan berbagai cara, dibantu seorang temannya sesama marga al-Gibran bernama Said, Mansur mati-matian berupaya agar Rosid bersedia kembali memakai busana yang di mata Mansur merupakan tradisi sakral peninggalan leluhur marga al-Gibran itu.

Demi menjamin kelancaran estafet tradisi dari dirinya kepada Rosid, berbagai upaya ia lakukan agar anaknya itu ‘kembali ke jalan yang benar’. Tapi semua upaya yang diarsiteki oleh Said itu-termasuk mendatangi ‘orang pintar’ dan mempertemukan Rosid dengan seorang ustad muda marga al-Gibran-menemui kegagalan. Rosid tetap menolak mengenakan peci putih di kepalanya.

Awalnya, penolakan Rosid disebabkan oleh rambutnya yang kribo. Tapi karena mendapat tekanan dari ayahnya terus-menerus, Rosid terdorong untuk melakukan penelusuran untuk membuktikan bahwa pemakaian peci bukanlah ajaran agama, melainkan sekedar budaya leluhurnya saja. Dibantu oleh Delia; pacarnya yang beragama Nasrani, Rosid menemui Anto; seorang ahli sejarah agama. Berbekal kekritisisannya dan informasi sejarah yang didapat dari Anto, Rosid menjungkalkan semua upaya ayahnya. ‘kealotan’ Rosid membuat sang ayah kehabisan kesabarannya; Rosid diusir dari rumah.

Selama masa pengusiran, Rosid bermalam di rumah Mahdi; sahabatnya. Rumah Mahdi juga merupakan semacam markas bagi sekumpulan anak muda lintas etnis dan agama yang kerap menggelar acara diskusi sastra, filsafat, dan agama. Said yang belum putus asa dalam ‘menjinakkan’ Rosid, mengadakan penyeledikan. Ia berkesimpulan bahwa rumah Mahdi merupakan sumber dari ‘penyimpangan’ sikap Rosid. Rosid dianggap telah terpengaruh oleh aliran sesat. Dengan memanfaatkan Lukman, seorang ketua ikatan remaja Masjid tak jauh dari rumah Mahdi, Said menyusun rencana. Ia memanfatkan keradikalan Lukman untuk membubarkan perkumpulan di rumah Mahdi. Maka terjadilah

berbagai peristiwa seru, dari mulai perdebatan tentang makna kesesatan dan bid’ah, hingga peristiwa tawuran massal. Meski terdengar serius dan menegangkan, tapi bebagai peristiwa lucu terjadi di situ.

Novel ini juga diselingi dengan kisah cinta antara Rosid dan Delia yang terganjal oleh perbedaan agama. Bagaimana akhir dari hubungan mereka? Dan bagaiman akhir pertentangan antara Rosid dan ayahnya? Sebaiknya baca sendiri saja…(copyright ADIL)

Comment

Leave a Reply to muhsinlabib Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 comments

  1. Menarik juga kedengarannya. Melukiskan perjuangan anak jaman yang berjuang mencari jati diri sejati, diantara gesekan kultur dan nilai yang ada di antara tradisi keluarga dan lingkungan. Mencoba mengkristalisasi nilai-nilai universal dari kontroversi yang terjadi.

    Boleh tahu pengarang & penerbitnya ?

News Feed