‘The Rising Star’ dari Qom

meshkini.jpg

Sejak wafatnya Ayatullah Borujerdi di Qom dan Ayatullah Mohen al-Hakim di Najaf, Ayatullah Abul-Qasim Khoi adalah marja’ terbasar di Najaf sementara Ayatullah al-‘Uzhma Imam Ruhullah Khomeini adalah salah seorang marja’ taqlid terbesar di Qom.

Dengan posisi keagamaan yang amat penting itu, Khomeini mengelola hawzah sebagai sentra perlawanan terhadap tirani Shah Pahlevi yang telah berumur lebih daripada 2000 tahun. Ia telah mencetak ribuan ulama intelektual dan pejuang yang kelak setelah kememangan Revolusi Islam, menjadi pilar-pilar sistem Republik Islam Iran.

Salah satu rising star hawzah ilmiah Qom produk Imam Khomeini adalah Ayatullah Mirza Ali Mesykini. Ia terlahir dengan nama Ali Akbar Faidh, dari keluarga ulama pada 1300 H di Mesykin, kota di baratdaya Iran. Ia diberkati usia panjang, 86 tahun, yang dihabiskan dalam aktivitas perjuangan demi terwujudnya Revolusi Islam Iran dan aktivitas keilmuan di hauzah-hauzah ilmiah.

Ia mempelajari ilmu-ilmu Islam tingkat dasar dari ayahnya. Menyusul kepergian sang ayah, beliau melanjutkan studinya di Ardabil demi menekuni gramatika dan struktur bahasa Arab (nahwu dan sharf). Setelah itu, beliau memaksimalkan studinya secara intensif di kota “sejuta ulama”, Qum.

Pada masa itu, rezim Syah Pahlvevi menebar aparatnya ke seluruh titik kota dan menutup banyak hauzah. Dalam kondisi yang sangat sulit itu, Ayatullah Mesykini berhasil menyelesaikan studinya pada tingkat “Sathh” (intermediate), dan pada saat yang sama, giat mengikuti kuliah-kuliah level tinggi dalam bidang fikih Islam (dars kharij) dari para guru besar terkemuka pada zaman tersebut.

Ia juga terus aktif mengajar dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan lewat kuliah-kuliahnya dari level “muqadimah”, “sath”, hingga level atas. Keberkatan ilmunya menjadi nyata dengan lahirnya ulama-ulama yang kompeten dalam berbagai bidang keagaamaan.

Setelah kemenangan Revolusi Islam pada 1979, rekan diskusi Ayatullah Ibrahim Amini dan Ayatullah Abdullah Jawadi Amuli ini dipercaya untuk memegang berbagai tugas super penting, antara lain, Anggota Majles-e Khobregan; Anggota Komisi Penyeleksi para hakim ; Ketua Majles-e Khobregan ; dan Imam serta Khatib Jumat di kota suci Qum.

Ketika Imam Khomeini wafat, sebagian opini menunjuk namanya sebagai calon Pemimpin tertinggi, karena senioritas, spiritualitas, dan intelektualitasnya yang tidak diragukan. Namun kerendahan hati telah membuatnya menampik suara-suara dukungan itu. Demi menghilangkan kontroversi seputar figur pengganti Imam Khomeini, ia mengutus menantunya, Reysyahri, untuk menyampaikan dukungannya kepada Ayatullah Ali Khamenei sebagai pengganti Imam Khomeini, meski usianya lebih muda daripada dirinya. Mesykini bahkan memohon izin untuk menggunakan hak kemarjaannya kepada Ali Khamenei, meski hal itu kurang lazim dalam tradisi hawzah ilmiah.

Sejak Ali Khamenei diangkat sebagai Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, sejumlah anggota utama Dewan Ahli diganti dengan mujtahid-mujtahid muda karena menyatakan diri sebagai marja taqlid, seperti Ayatullah Luthfullah Shafi Golpaigani, Ayatullah Makarim Syirazi , Ayatullah Yusuf Shanei, dan Ayatullah Musawi Ardebili. Meski demikian, Mesykini yang sudah sangat tua dan dianggap paling layak untuk beristirahat dan menjadi marja’ taqlid, bergeming dari tugasnya demi komitmen dan rasa tanggung jawab yang amat dipeliharanya.

Karya-karya yang mengabadikan namanya, di antaranya adalah: Isthilahat Ushul Fiqh Islam; al-Manafi al-Ammah; Miftah al-Jinan (doa tambahan untuk kitab Misbah al-Munir); al-Mawa’id ‘Adadiyah; al-Hadi ila Maudhuat Nahjul Balaghah; al-Mabshut (tafsir surah Ali Imran); Tahrih al-Mawaidh; Tahrir al-Ma’alim; dan Rasail al-Jadidah.

Pada Senin, 15 Rajab 1428 H (30 Juli 2007), di sebuah rumah sakit di Tehran, ruh faqih dan ulama besar murah senyum ini melayang ke haribaan Kekasihnya nan Abadi. Innna lillah wa inna ilaihi rajiun.(www.adilnews.com)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed