TIRI

Saya mendapatkan curhatan teman virtual yang gelisah dan stress karena terbebani oleh sebutan tiri.

Ibu dan ayah, saudara adalah status yang sangat fundamental dalam unit sosial manusia bahkan binatang. Status ini pada umumnya didasarkan pada fakta biologis, dan sebagian merupakan produk konstruksi dan kontrak.

Status biologis dilekatkan sebagai adjektiva ‘kandung’ yang lazim disebut ‘asli’ Sedangkan adjectiva khusus bagi status konstruktif adalah ‘angkat’. Adjectiva ketiga adalah ‘tiri’

Kata tiri sendiri berarti bukan darah daging sendiri. Saudara tiri (kakak tiri maupun adik tiri) adalah saudara yang seayah atau seibu saja, bukan kedua-duanya. Saudara yang seayah namun beda ibu disebut paternal siblings, sedangkan saudara yang seibu namun beda ayah disebut maternal siblings.

Ungkapan-ungkapan turunan lainnya adalah ayah tiri (ayah non-biologis sebagai suami dari ibu kandung), ibu tiri (ibu non-biologis sebagai istri dari ayah kandung), dan anak tiri (anak yang sudah dimiliki oleh suami/istri dari pernikahan sebelumnya).

Untuk dapat disebut sebagai saudara tiri, dua atau lebih individu harus terhubung satu generasi ke atas kepada salah satu, dan hanya satu, orang tua (atau tetua). Dalam hubungan perkawinan, hal ini terjadi ketika satu individu mengawini lebih dari satu individu, dan memiliki anak dari paling tidak dua perkawinan. Anak-anak dari pasangan yang berbeda adalah saudara tiri.

Entah bagaimana muasalnya, tiri dalam opini atau mitos masyarakat di Indonesia identik dengan kekejaman, kedengkian dan keculasan. Banyak orang baik diperlakukan buruk atau dituduh pura-pura baik karena menyandang ini. Mereka menjadi korban suuzon massal yang mirip dengan korban stigma “janda”, “jomblo” dan lainnya.

Padahal tak sedikit ibu tiri dan ibu angkat, juga ayah dan saudara tiri juga angkat lebih berguna dari yang sekandung.

Konon, film Ratapan Anak Tiri beberapa tahun lampau menjadi penyebab mengawetnya pandangan negatif terhadap semua yang dihubungkan dengan tiri. Celoteh khalayak”Ibu kota lebih kejam dari ibu tiri” menkonfirmasi stigma itu.

Anda mungkin termasuk yang ditirikan oleh keadaan sebagai ibu, ayah, anak atau saudara tak perlu risau atau risih dengan stigma itu, karena tak ada manusia tiri. Bagi Tuhan tak ada hamba tiri.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed