Tolak RUU Pornografi, Rakyat Bali Janji “Pesta” Telanjang

Ratusan orang yang tergabung dalam Komponen Rakyat Bali (KRB), berjanji akan menggelar “pesta” telanjang bila RUU Pornografi dan Pornoaksi diundangkan di negeri ini.


“Bila RUU tersebut diundangkan, kami akan menggelar karya seni instalasi yang antara lain diselipi dengan adegan telanjang di Lapangan Niti Mandala Renon Denpasar,” kata Koordinator KRB Drs IG Ngurah Harta, di Denpasar, Selasa.


Di tengah-tengah aksi unjukrasa menolak UU Pornografi dan Pornoaksi yang diikuti sekitar 750 anggota KRB, Ngurah Harta menyebutkan, “pesta” telanjang yang digelar tersebut akan dikemas ke dalam karya seni instalasi.


Masalahnya, dalam RUU tersebut, hanya karya seni, budaya dan prosesi ritual saja yang diperkenankan untuk diwarnai dengan berbau porno, ucapnya.


“Pasal 14 RUU tersebut secara jelas menyiratkan itu. Karenanya, kami akan berlaku porno atas nama seni budaya,” ujar seniman yang kerap ambil bagian dalam menyutradarai sejumlah sinetron yang ditayangkan TV lokal.


Ngurah Harta yang juga pinisepuh perguruan seni bela diri Sandi Murthi itu mengatakan, bila berkaca pada pasal 14 RUU Pornoaksi tersebut yang kini kembali dicuatkan di tingkat dewan, maka seluruh pasal lainnya akan tidak mempunyai makna apa-apa.


Senada dengan Ngurah Harta, Gede Sugilanus, budayawan asal Bali, menyebutkan pasal-pasal yang lain akan mati jika semua pihak memanfaatkan pasal 14 dalam aktivitas yang konon berbau porno di masyarakat.


Selain ada pasal “pembunuh”, RUU Pornografi juga sarat dengan muatan yang dapat mengancam disintegasi bangsa, karena aturan yang ada sangat tidak menghargai kebinekaan.


Mengingat itu, Sugilanus yang juga anggota Asosiasi Pemantau Anggota Dewan mengharapkan pemerintah dapat membatalkan RUU yang kini juga mendapat penolakan dari berbagai komponen masyarakat di sejumlah daerah.

“Jika pemerintah tetap memaksakan RUU tersebut untuk diundangkan, tidak akan membawa dampak yang menguntungkan selain sebaliknya, sangat merugikan,” katanya.

Aksi demo ratusan anggota KRB tersebut, sempat diwarnai dengan aksi “penculikan” terhadap anggota dewan.


Ketua DPRD Bali IB Wesnawa dan wakilnya IG Adi Putra, serta merta dijemput pengunjuk rasa untuk bersama-sama turun ke jalan, menyerukan penolakan diberlakukannya UU Pornografi.


Dijemput di ruang kerjanya di gedung dewan di Denpasar, kedua wakil rakyat itu tidak keberatan digiring massa menaiki mobil bak terbuka yang dilengkapi aneka spanduk, bendera dan alat pengeras suara.


Turun ke jalan raya bersama ratusan demonstran, ketua dewan dan wakilnya tampak ikut meneriakkan yel-yel menolak RUU Pornografi untuk diundangkan.

(http://www.mediaindonesia.com)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 comments

  1. MENYEDIHKAN, ATURAN2 TUHAN HARUS TUNDUK PADA KEINGINAN2 MANUSIA. SEMOGA ALLAH MENYADARKAN “MEREKA-MEREKA” DENGAN PERINGATAN-NYA.

  2. Maaf Indonesia terdiri dari banyak suku, agama dan budaya. Undang-undang pornografi tersebut tidak memihak kepada aspek multicultural, pertimbangkan lagi hendaknya pembuatan UU tersebut. Cara pandang tiap budaya sangatlah berbeda dalam kata “telanjang” demikian juga dengan kepercayaan dan persepsi. Jika terjadi pemaksaan dan menggunakan asas mayoritas akan berakibat buruk bagi kesatuan bangsa dan keanekaragaman budaya bangsa. Malaysia yang miskin budaya mencuri budaya kita, sedang orang Indonesia sendiri menghancurkan budaya mereka sendiri.
    Dikaitakn dengan budi pekerti, apakah budi pekerti bangsa Indonesia sangat luhur? Banyak sekali tempat ibadah dibangun dimana-mana tetapi akankah niklai keagamaan dapat mempengaruhi budi pekerti mereka? Ketika saya pulang kerja naik Bus antar kota saya melihat seorang ibu hamil tua yang berdiri didekat saya, sedangkan banyak bapak2 PNS ada yang duduk didepan saya dan melhat wanita tersebut tanpa ada itikat baik mempersilahkan wanita hamil itu menggunakan tempat duduknya. Lalu datanglah seorang wanita tua menawarkan tempat duduknya bagi ibu hamil tersebut dan ahkirnya ibu itupun duduk. Sejak kecil kita akrab dengan Pancasila, agama dan contoh penghayatannya tapi moral bangsa kita juga tetap sulit membaik. Janganlah UU pornografi ini dijadikan sebagai suatu alat yang menghancurkan tetapi gunakanlah untuk kebaikan dalam hidup sebagai sesama manusia dan bernegara. Saya takut budaya saya Jawa, Yogyakarta dan budaya lain ikut hancur. Saya dengan tegas menentang RUU jika isi RUU tersbut tidak bersifat universal bagi setiap lapisan masyarakat yang multicultural, multireligi dan multiethnic. Terimakasih

  3. RASAH NGENTENI PENGESAHAN.
    SAIKI WAE PESTA TELANJANG. MENGKO DIABADIKAN DAN DISIARKAN DITELEVISI. DIZOOM BEN DO TERANGSANG KABEH SING NONTON.
    BEN SOYO AKEH PEMERKOSAAN, PRAWAN METENG.
    WONG KI NEK RA KENAL AGAMA YO NGONO KUWI!

News Feed