TRAGEDI ASYURA DAN BEBAN HIDUP KITA

Bagi arus umat yang berlomba mengumpulkan pahala kebaikan tanpa risiko, bergabung dalam kafilah Asyura adalah perbuatan konyol dan aksi cari masalah.
 
Asyura menegaskan bahwa kesyahidan adalah risiko maksimal perbuatan baik, keterkucilan adalah risiko menengah dan kemiskinan adalah risiko minimalnya.
 
Sedikitnya jumlah peserta kafilah Karbala adalah fakta natural yang mengungkap bahwa kebaikan dengan risiko bukanlah pilihan utama sebagian besar manusia pengiman.
 
Di luar kafilah Asyura umat berlomba beribadah dan berbuat baik seperti berhaji dan berdagang sebagai ‘jihad nafkah’ untuk keluarga.
Sebagai orang yang sudah menentukan pilihan perbuatan dengan kesadaran menerima risiko terberat yang pasti, Al-Husain tak meminta pertolongan untuk menghindari risiko tapi justru untuk menyadarkan bahwa perbuatan baik pasti berisiko.
 
Epos Asyura diperingati bukan untuk menyesalkan pengorbanan tapi untuk memantapkan hati menerima risiko kemiskinan, keterkucilan, keteraniayaan dan kesyahidan.
 
Pandemi telah menciptakan petaka kesehatan dan sosial bagi umat manusia. Tapi bagi para pengenang Asyur hidup yang sulit terasa mudah, bila diukur dengan tragedi Al-Husain dan kafilahnya.
Yang sedih karena sakit bisa meringankan beban kesedihan dengan membayangkan luka perlahan yang berujung kematian para peserta kafilah Asyura.
 
Derita perempuan yang berjuang sendiri mempertahankan martabat bisa menegakkan diri dengan membayangkan para tawanan wanita yang diarak.
 
 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed