Tragis! Artikel-artikel Serius Ga Laku

wacana.jpg

Sejak membuat blog dan rajin mengirim posting, ternyata artikel yang ditulis dengan perenungan, persiapan dan bekal sumber yang menyita pikiran, tidak menarik minat banyak pengunjung.

Terbukti komentar dan data kliknya sangat memprihatinkan. Sebaliknya posting yang gerrr atau sangat ringan bahkan terkadang aneh dan kontroversial mendapat seruan pengunjung dalam jumlah yang mencengangkan.

Di dunia darat pun demikian, kajian-kajian ilmiah dan filosofis kurang diminati. Akibatnya, para pengabdi wacana dan filsafat menjadi jobless dan kalah laku dibanding para penganjur kebaikan dan akhlaqul-karimah.

Buku-buku filsafat juga begitu kalah dengan buku-buku yang menawarkan ketenangan dan tips shalat khusyuk dan semacamnya. Benar-benar memilukan. Akibatnya, banyak penerbit yang beralih visi dan orientasi. Kita mungkin masih ingat ‘mendiang’ seri filsafat Mizan yang kini tinggal kenangan.

Gejala apa ini?

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

11 comments

  1. takut kepada kebebasan berpikir, cemas terhadap keterbukaan akal, yang lebih mengkhawatirkan lagi, paranoid kalau-kalau menemui kebenaran….

  2. Salaam. Ana rasa karena umat Islam di Indonesia itu pada umumnya lebih menyukai pengetahuan-pengetahuan yang indrawi dan tekstual karena simple dan ndak udah terlalu mendayagunakan akal. Belum lagi mereka yang meng-klaim mendapatkan ilmu hudhuri, yang sepertinya telah menjadi trend belakangan ini.

  3. mungkin karena hirarki manusia seperti piraminda, semakin di atas semakin sedikit jumlahnya. jadi bahasanya juga berbeda, bahasa yang ilmiah, tinggi , filsafat dan irfan hanya digemari oleh kalangan terbatas. sementara untuk yang di bawah kurang diminati. Demikian juga dengan wacana agama ajaran-ajaran yang lengkap,multidimensional dari islam – well sayangnya- hanya diikuti oleh segelintir orang saja, -tetapi yang biasa-biasa sangat disukai oleh mayoritas.

    mungkin perlu menggunakan jalan tengah, yaitu dengan menyederhanakan bahasa-bahasa yang sulit, bahasa yang berat menjadi selesa untuk dibaca, apakah lewat metaforis, asosiasi, asimilasi, dan anda memiliki kemampuan yang bagus, bravo !

    salman f.

  4. Heheh, jadi inget blog sendiri yang hanya menampilkan hal-hal ringan saja. Tampaknya wacana filsafat memang agak susah bergerak di negeri ini. Dominasi tasawuf-sunni tampaknya menjadi salah satu faktor yang menjadikan ini semua terjadi. Dan saya sendiri akhirnya mengikuti selera pasar Muslimin Indonesia yang tampaknya enggan berpikir kritis. Terkadang muncul satu pertanyaan dalam diri saya, bagaimana bisa memberikan pencerahan sementara konten dari blog saya ini sangat dangkal, sepintas saja. Atau barangkali filsafat yang dikembangkan “sangat skolastik” sehingga hanya segelintir orang yang mampu memamah wacana-wacana filosofis?
    Mungkin perlu dikembangkan bagaimana menerapkan filsafat Wujud dalam menganalisis persoalan harian seperti halnya filsafat Barat. Atau malah filsafat “Islam” terlalu “menuhan” sehingga susah dipahami?
    Arif Mulyadi (www.fajartimur.wordpress.com)

  5. Heheh, jadi inget blog sendiri yang ringan-ringan isinya. Kayaknya ada beberapa faktor yang menyebabkan ketaklakuan artikel serius:
    1. Kurangnya penguasaan tema-tema filsafat dari si pembaca sehingga untuk menanggapi sebuah tema filsafat dia tak mampu.
    2. Berkembangnya sikap hidup “pragmatis” sehingga menumpulkan daya akal.
    3. Filsafat yang dikembangkan terlalu skolastik sehingga tak membuat paham orang awam.
    4. Dominasi tasawuf-Sunni yang lebih menekankan amaliah kalbu ataupun wirid sehingga tasawuf-falsafi (seperti yang dikembangkan Ibnu Arabi dan disupport oleh Mulla Shadra) tidak berkembang.
    Ah, apalagi aku bingung. Tapi bisa tidak filsafat Wujud–sebagai ikon utama filsafat di Dunia Syi’ah–“disederhanakan”?

  6. Penyederhanaan ilmu dengan niat lebih “membumi” di satu sisi memang sangat mulia, namun patut diingat bahwa seringkali “penyederhanaan” tak lebih dari pemotongan demi pemotongan atau pengabaian diskusi sesungguhnya dari ilmu tersebut.
    Lantas, perkara bagaimana ternyata isu-isu serius yang perlu perenungan kurang laku di masyarakat, sesungguhnya bisa dilihat dari beberapa sisi, antara lain:
    1. Tingkat pencapaian peradaban. Artinya peradaban bangsa ini belum mencapai taraf “renaisans” dan tertahan di level “konsumerisme” dan”hedonisme”. Gejala yang membuktikan ini bisa dilihat dari siapa yang menjadi idola masyarakat, apa yang diagungkan masyarakat itu, dan apa yang menjadi tabu bagi masyarakat tersebut. Untuk bangsa ini, yang menjadi idola adalah para selebritis yang bertaburkan glamorisme dan kecantikan ragawi, tujuan yang diagungkan masyarakat adalah pencapaian kekayaan dan hedonisme jasmani, dan yang menjadi tabu adalah pemikiran kritis yang distigmakan dengan kata “mbalelo”.
    2. Elit cendekiawan bangsa ini cenderung dipandang sebagai “alien” oleh masyarakat, sebagian karena latar belakang masy tersebut, sebagian juga dikarenakan ke-enggan-an (atau kesulitan) dari para cendekia untuk melebur bersama masyarakat.
    Untuk permasalahan peradaban merupakan isu kompleks yang sulit untuk dilakukan rekayasa atasnya (Kecuali atas kehendak Allah SWT melalui pengutusan para Nabi dan Rasul yang revolusioner).
    Untuk permasalahan yang kedua, perlu ada sekelompok masyarakat yang menjadi penengah antara kaum elit cendekia dan masyarakat bawah. Artinya perlu ada sekelompok orang yang terjun langsung sebagai kaum pengusaha, profesional, pegawain, petani, birokrat, angkatan bersenjata, dan lain-lain yang telah bersentuhan dengan lautan ilmu para cendekiawan.

  7. salam ustad,well saya kira ini yang ust keluhkan waktu kita bertemu di adil,saya punya pendapat yang berbeda ust,saya melihat ada unsur media seperti tv,radio,etc yang mempengaruhi pola berfikir kita saat2 ini,budaya instant,consumed style, itu semua mempengaruhi pola pikir dan paradigma kita selama ini menjadi tidak kritis dan malas berfikir,coba kita lihat di negara lain tema tema filsafat,sosial dan budaya masih menjadi buku2 yang sering dilahap rakyat nya.bebeng.

  8. Salam Ustadz,

    Sekedar berpendapat (berdasar komentar trixi dan bellamodigliani di atas), kalau dari sisi penyampaian, Dian Sastrowardoyo & Rieke Diah Pitaloka yang juga lulusan filsafat bisa jadi contohnya mungkin.
    Dari isinya, jelas berbeda.

  9. @ Ustad muhsin
    Menurut ana sebenarnya ngga gitu juga kalee, pak ustad itu sekali-kali belajarlah jadi koki. maksud ana, tidak ada manusia yang tidak suka makanan atau masakan, hanya saja terkadang yang bikin mereka kurang sreg atau menjauh terhadap makanan dan masakan itu bisa karena banyak faktor:
    1. kurang sosialisasi
    2, masakannya itu2 aja
    3. penyajian masakannya ngga kreatif, ngga bisa menyesuaikan mood pemakan/penikmat hidangan
    4. terlalu banyak penyedap rasa sehingga terlalu gurih dan orang cepet bosan
    5. kurang bumbu jadi rasanya hambar
    5. dll

    intinya, saya sudah baca beberapa tulisan ilmiah ustad, dan kesimpulan saya adalah:
    Ustad terjebak dalam bahasa keilmuan sebelumnya, harusnya ustad keluar dari pakem itu, kumpulkan seluruh maknanya lalu hancurkan kemudian susun ulang dengan gaya baru yang sesuai dengan bahasa atau makna yang sering dipahami orang banyak dan yang tak kalah penting setiap contoh yang diberikan haruslah contoh sehari2 yang dekat dengan mereka.

    mungkin contoh gilanya itu abu nawas atau nashirudin hoja kali ye, meskipun menurut orang2 mereka itu “gila” tapi menurut ana mereka itu filosof bertopeng yang sukses dengan filsafat mereka yang memasyarakat. mereka mampu berbaur dengan masyarakat awam dengan filsafat mereka yang dibungkus dengan kegila-gilaan mereka. bandingin aja ama aristo dan plato, bisa diitung jari berapa murid dan teman yang simpatik dengan ajarannya. yang ngerti omongan mereka berdua berapa orang sih?

    semoga bisa memberi faidah berharga.

News Feed