Tragis! Demi Kebebasan, 54 Migran Myanmar Tewas di Kontainer

Sebanyak 54 migran Myanmar mati lemas di dalam sebuah kontainer pendingin seafood saat mereka berupaya menyelundupkan diri ke Thailand.

Insiden itu merupakan peristiwa paling tragis di tengah maraknya warga Myanmar yang berupaya menyelamatkan diri dari kehancuran ekonomi dan mencari kerja di Thailand.

Meski memimpikan kehidupan yang lebih baik di negeri tetangga, dalam pelarian itu mereka sering kali mengalami pelecehan seksual, pemerasan, dan eksploitasi.

“Sebanyak 121 orang berjejalan di dalam sebuah kontainer pendingin makanan hasil laut beku yang kedap udara dengan panjang 6 meter dan lebar 2,2 meter,” ungkap Komandan Polisi Lokal di selatan Provinsi Ranong, Kolonel Kraithong Chanthongbai.

Kolonel Kraithong menjelaskan, pria dan wanita yang berjejalan di kontainer itu mencoba menuju Pulau Phuket, Thailand, untuk bekerja sebagai buruh harian.

Namun, sebelum mereka mencapai tujuan akhir, 37 wanita dan 17 pria kehabisan napas dan mati lemas dalam kontainer yang kedap udara dan sistem ventilasinya rusak tersebut.

“Orang-orang di dalam kontainer mengaku mencoba memukul-mukul dinding kontainer untuk mengatakan pada pengemudi truk bahwa mereka sekarat. Namun, pengemudi truk kontainer itu mengatakan agar mereka diam karena polisi akan mendengar suara saat melintasi pos pemeriksaan di wilayah Thailand,” ungkap Kraithong.

Saat pengemudi truk menyadari sejumlah migran telah tewas, dia memarkir truk ke tepi jalan, membuka pintu kontainer dan melarikan diri.

“Polisi masih memburunya,” papar Kraithong.

Petugas medis menjelaskan, sepuluh migran masih dirawat di rumah sakit karena menderita dehidrasi dan kekurangan oksigen. Sementara korban tewas dikuburkan sementara di Phuket hingga jenazah mereka diambil keluarganya.

“Sebanyak 57 migran yang tidak terluka atau telah keluar dari rumah sakit kini ditahan,” kata Kraithong.

Maraknya warga Myanmar yang hendak melarikan diri ke Thailand ini disebabkan mudahnya mereka melintasi perbatasan.

Warga negara Myanmar yang ingin melarikan diri bersedia membayar pada sebuah jaringan penyelundup migran di Thailand sebesar USD157 per orang. Menurut data kementerian tenaga kerja Thailand, dari 540.000 pekerja migran yang terdaftar bekerja di Thailand, sebagian besar berasal dari Myanmar.

Meski demikian, pemerintah menyadari, lebih dari satu juta pekerja migran tanpa dokumen bekerja di negara kerajaan itu.

“Negeri mereka sendiri (Myanmar) telah dijadikan sebuah negara miskin oleh militer. Migran itu melarikan diri akibat gaji yang rendah, tingginya jumlah pengangguran, pendidikan rendah, dan perlakuan kasar militer di negeri yang juga disebut Burma itu,” papar David Mathieson, konsultan Myanmar untuk Human Rights Watch yang berpusat di New York.

Ibarat keluar dari mulut harimau masuk ke mulut buaya, menurut Mathieson, di Thailand, migran Myanmar itu mengalami pelecehan seksual, pemerasan, dan eksploitasi. (sindo//jri)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed