NASIB TRAGIS TEOLOGI AGRESIF

Saat teologi-teologi lain telah membangun peradaban, ia justru dihancurkan oleh para penganutnya yang agresif. Tragis!

Logis! Tertinggal dari agama lain karena banyak pemukanya intoleran dan banyak penganutnya agresif.

Tak hanya penganut lain, sebagian penganutnya tak aman di tengah sesama penganut.

Lembaran sejarah penyebarannya merah dengan invasi, pemaksaan dan perampasan. Pembunuhan dan genosida dianggap salah ijtihad dan dilupakan.

Kanibalisme sektarian sesama penganut mengiringi ekspansi dan pelebaran koloni bertajuk penyebaran agama.

Kudeta demi kudeta dari tiran moyang ke tiran buyut memarakkan arena perebutan dominasi berbalut teologi. Semua dibungkus dengan khilafah.

Jelatanya dirawat dalam kebodohan berbungkus doktrin merangkak-rangkak memuja feodalis berjubah agamawan dari zaman ke zaman.

Tak terhindarkan! Eksodus dan penyamaran menjadi pilihan yang tersedia bagi yang dimarginalkan atau dikafirkan dan dizindiqkan.

Nyaris tak ada yang tersisa dari teologi agresif ini selain klaim superioritas kuantitatif dengan intimidasi dan persekusi.

Teologi yang menetapkan bahwa benar dan baik adalah yang dianggapnya benar dan baik pasti mendorong penganutnya menafikan kebenaran dan kebaikan siapapun yang tak seteologi.

Kalau ada yang bisa dijadikan alasan tetap menganutnya adalah harapan, bukan faktanya.

Harapan kemenangan akal sehat dengan kerendahan hati dan toleransi atas doktrin nir akal dengan arogansi dan intoleransinya adalah buah dari kemestian aksiomatis keyakinan kokoh akan kemahabijaksaan Tuhan.

Berhentilah berjingkrak-jingkrak merayakan kebodohan di atas fosil khilafah dan utopia kuasa despotik bercawat doktrin tak bernurani.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed