TRANSUBSTANSI TEOLOGI KE IDEOLOGI

Menggelikan. Hampir semua info tentang saya di google dikaitkan dengan Syiah. Padahal hampir semua ucapan dan tulisan saya tidak berkaitan dengan Syiah karena saya pantang menjajakan keyakinan pilihan saya dan karena saya selalu membahas tema-tema sesuai kompetensi akademik saya.

Lebih lucu lagi, tak ada pernyataan saya yang dikutip oleh kelompok anti Syiah sebagai bahan untuk menyudutkan saya dan Syiah, meski saya tak pernah menolak dianggap sebagai penganut Syiah.

Sejak menyelesaikan studi di Qom, salah satu pusat pendidikan Islam dan pusat seminari Islam Syiah terbesar di era modern, hingga detik ini saya konsisten membahas tema-tema seputar pemikiran lintas agama (apalagi mazhab), logika, filsafat terutama, epistemologi, ontologi dan teologi baik dalan aktivitas intelektual dan dakwah dalam lingkungan internal komunitas dan eksternal.

Semula tema-tema pilihan saya tidak mendapatkan animo yang sepadan dengan kegigihan saya karena mayoritas komunitas internal pada masa-masa sebelum meluasnya penggunaan internet lebih mengutamakan tema-tema historikal, tekstual, ritual dan yuriaprudensial alias fikih berdasarkan sejumlah faktor, antara lain mudah dipahami karena didasarkan dalil tekstual dan disampaikan dalam diksi yang sederhana. Meski demikian, saya tak beranjak dari metode dan pendekatan yang saya pilih sesuai displin ilmu yang saya pelajari dan yang saya terus kembangkan.

Namun seiring daur waktu ketika internet menjadi bagian dari kehidupan seluruh orang di manapun dan dari semua strata sosial, selera pemikiran serta pola respon terhadap gagasan-gagasan rasional pun mulai meningkat. Logika pun menjadi primadona.

Meski kesadaran tentang urgensi konsolidasi belum merata akibat pengaruh sisa pemahaman lama yang masih mengendap atau euforia virtual grouping yang mengabaikan asas kompetensi yang merupakan konsekuensi niscaya dari imanensi keyakinan kepada yang transenden dengan gradasinya, komunitas ini sedang berbenah melalui proses natural dan bersiap menanjak dari doktrin historikal sektarian ke paradigma yang relevan, kontekstual dan aplikatif. Inilah transubstansi dari teologi ke ideologi.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed