TRUMP BUKAN IDOLA

Bagi sebagian orang, kesuksesan seseorang meski dengan keculasan menjadi alasan untuk diidolakan dan diteladani. Bagi sebagian lain komitmen seseorang meski tak membuahkan kesuksesan menjadi alasan untuk diidolakan dan diteladani.

Karakter seseorang bisa diketahui dari karakter sosok manusia yang diidolakannya.

Sebagian yang kita agungkan ketenarannya dan dimakmumi celoteh-celotehnya-meski biasa-biasa saja- oleh banyak orang di area publik hanyalah berhala-berhala.

Arus utama manusia menjadikan ketenaran, kehebohan, kekayaan dan kekuasaan sebagai parameter kebenaran. Mereka menghambakan diri secara massal kepada idola-idola.

Menurut Francis Bacon, bapak empirisisme, ada empat idola (berhala) dalam benak yang sering menghalangi subjek berpikir logis dan valid.

Pertama: Idola tribus (The Idols of Tribe); penyimpulan tanpa dasar yang cukup dan berpijak di atas alasan-alasan dangkal. Ini menjangkiti banyak awam/tribus.

Kedua: Idola specus (The Idols of the Cave); penyimpulan berdasarkan prasangka semata, prejudice, kebencian, seperti manusia di dalam gua/ specus.

Ketiga: Idola fori (The Idols of the Market Place); penyimpulan hanya ikut-ikutan opini umum, trend, kehendak pasar atau tekanan golongan tertentu.

Keempat: Idola theatri (The Idols of the Theatre); penyimpulan berdasarkan dogma, mitos, utopia, mindset primordial, seolah dunia hanyalah drama.

Secara umum, Bacon menganggap kebodohan yang didasarkan pada mindset yang absurd lebih buruk dari kebodohan karena minim data. Inilah mucikari fanatisme.

Presiden AS, pemilik bisnis raksasa judi yang dikenal amoral dan tak beradab, adalah jenis manusia yang memilih karakter binatang buas yang tak setia kepada kawan dan mau bertarung secara biadab dengan lawan.

Tragis dan ironis bila seseorang menjadikannya sebagai idola, teladan kepemimpinan dan contoh kesuksesan.

Kemajuan sebuah negara dan kebesaran sebuah bangsa tidak diukur oleh seberapa banyak negara yang ditindasnya dan seberapa banyak sumber daya alam yang dirampasnya tapi ditentukan oleh kepemimpinan yang bijak, kedaulatan negara dan kemandirian bangsa dalam bersikap.

Negara beradab tak perlu memuja dan meremehkan negara lain. Bangsa sembada tak perlu membusungkan dada dan mencemooh bangsa lain.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed