‘Tuhan Baru’ (bag 1)

Matter and Matter

Ternyata hampir tidak ada seorangpun yang tidak bertuhan, atau paling tidak, setiap orang secara sadar atau tidak, mengakui adanya ujung rangkaian kausal dalam dunia kosmik. Ujung rangkaian itu disebut dengan ‘materi’.

 

Sedemikian ‘absolut’-nya pengertian di balik kata ini bagi sebagian orang, sehingga dalam komunikasi Barat, terutama Inggris, ‘bukan materi’ (it’s doesn’t matter) yang juga berarti ‘bukan sesuatu yang penting’ dan ‘bukan benda’ (it’s nothing) yang juga diartikan ‘bukan apa-apa’ diartikan ‘tidak ada’. Padahal thing (sesuatu, syay’) mengandung pengertian ontologis yang identik dengan eksistensi.

Setidaknya, sejauh yang penulis pernah dengar, ada tiga pengertian berbeda yang terkandung dalam kemasan kata ‘matter’, yaitu dalam ontologi, epistemologi (logika) dan kosmologi (fisika).

Materia dalam ontologi tidak berbentuk benda, karena ia sebenarnya tidak akan ada tanpa forma. Sedangkan materi dalam kosmologi, terutama dalam filsafat Barat adalah raga, yang merupakan gabungan dari forma (yang memberikan aktualitas) dan potensia atau materia (yang hanya menerima aktualitas). Oleh sebab itu kita menyebutnya ‘materia’ dalam ontologi dan ‘materi’ dalam kosmologi.

Materi dalam fisika modern lebih cocok dengan al-jism atau raga dalam ontologi dan kosmologi Hikmah Muta’aliyah. Yaitu substansi yang merupakan gabungan dari al-maddah (materi) dan ash-shurah (forma). Sedangkan al-mâddah dalam filsafat Islam, adalah sesuatu (al-ma’na) yang menyandang forma (ash-shûrah). Ia tidak berbentuk, karena ia hanyalah potensi semata, bahkan tidak akan pernah ada (sebagai al-mâddah) sebelum memperoleh foma (ash-shûrah) yang memberinya aktualitas (al-fi’liyah). Hal inilah yang kerap menimbulkan kerancuan. Bahkan ada filosof yang mempertanyakan hyle (hayula) ini karena dianggap beraroma mithos Yunani.

Materi dalam epistemologi dan logika juga tidak sama dengan pengertian materi dalam ontologi (filsafat eksistensi objektif) dan kosmologi. Materi dalam epistemologi dan logika Islam adalah muatan proposisi atau pernyataan, seperi subjek (maudhu’) dan predikat (mahmul) sebagai pasangan dari forma proposisi.

Dengan keragaman fungsi dan pengertian di balik kata ‘materi’, matter dan maddah, mungkin yang paling mendesak untuk diperbincangkan adalah materi dalam kosmologi saintis atau fisika, karena koherensinya yang sangat rekat dengan tema-tema ketuhanan dan metafisika.

A Matter of ‘Matter’

Pengertian ‘materi’ ini sekurang-kurangnya dapat dipisahkan menjadi dua kelompok pengertian yang mencakup pengertian ‘materi’ yang dikemukakan sebelum berkembangnya ilmu fisika modern (fisika mekanik) dan pengertian yang dikemukakan setelah berkembangnya ilmu fisika modern (fisika kuantum). Materi adalah setiap entitas padat, cair dan gas atau ion yang dapat diinderakan. Sebenarnya, definisi ini tidaklah sempurna, karena ia hanya menunjukkan ciri-ciri khas benda.

Sebelum berkembangnya ilmu fisika modern, istilah materi (matter) ini menjadi populer terutama pada masa skolastik, setelah Thomas Aquinas (1225-1274 M) memperkembangkan ajaran Aristoteles. Ia mengemukakan adanya dua macam materi, yaitu materi prima dan materi sekunda. Yang dimaksudkan dengan materi prima (prime matter, hyle, hayula dalam kamus ontologi Islam) adalah potensialitas murni yang tidak mempunyai pencirian positif apapun. Hyle atau materia prima ini selalu menunggu morph (shurah, aktus) yang meniscayakannya untuk ‘menjadi’ (becoming, huduts).

Gabungan antara hyle dan morph inilah yang kemudian dapat diidentifikasi sebagai misalnya saja emas, perak, atau yang lainnya. Dan gabungan antara hyle dan morph sebagai bentuk substansial (bentuk yang menyebabkan benda sesuatu menjadi sesuatu yang individual). Gabungan inilah yang disebut materia sekunda. (Rudolf Allers, 1975) atau dalam ontologi Islam disebut dengan al-jism (body). Ia adalah substansi yang berada di bawah strata intelek (al-‘aql), yang merupakan substansi tertinggi karena memiliki sifat trasenden dan abstrak dan berada di bawah strata jiwa (an-nafs) yang senanatiasa berperan sebagai mediator dan penghuni ranah interval (barzakh). Meski menempati kasta paling rendah dalam masyarakat maujud, ia sangat penting dikenali karena hukum Tuhan diberlakukan atas maujud kala substansi berada dalam kemasan jism (materi kedua).

Dewasa ini pengertian materi pada umumnya diartikan semakna dengan yang didefiniskan oleh Thomas Aquinas sebagai materia sekundar tersebut. Hendaknya dimaklumi bahwa selama ini para filosof belum mempunyai pendapat yang sama mengenai signifikansi arti dari materi atau benda material ini. Oleh karena itu, dalil utama dari materialisme yang berbunyi “every thing that is, is material.” (Setiap sesuatu apapun yang ada itu bersifat material) selama ini masih menyimpan pengertian yang ambigu (bermakna ganda).

Untuk menjembatani perbedaan pendapat ini, maka kemudian materi atau benda material tersebut didefinisikan sebagai entitas yang terdiri dari bagian-bagian proses yang mencakup berbagi kualitas fisis. Kualitas-kualitas fisis ini antara lain posisi ruang dan waktu, ukuran, bentuk, kedalaman, massa, kecepatan, soliditas, inersia, kandungan elektrik, gerak (spin), kekakuan (rigiditas), suhu, dan kekerasan (hardness). (bersambung)

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 comments

  1. Artikel ini sangat menarik, karena ana ingin sekali bisa memahami persoalan ini lebih jauh Sayyid. Syukran.

  2. Ahsan ustad,
    sebenarnya apa yang disebut materi sendiri, kalau fisikawan sekarang mau konsekuen, bisa dibilang ketiadaan.

    Proposisi pertama:
    Materi terdiri dari atom, atom terdiri dari (sesuai model Rutherford Bohr) inti atom yang sangat kecil dikelilingi elektron yang juga sangat kecil. Sebagai ilustrasi, perbandingan antara inti atom dan diameter atom adalah 1 banding 100 ribu, atau bagai sebutir pasir di tengah kamar ukuran 2,5×2,5 m yang kosong. Artinya perbandingan antara volume atom dan inti atom adalah 1 banding 10 pangkat 15 (satu dengan 15 nol dibelakangnya). Artinya 99.99999999999% dari atom itu adalah ruang kosong.

    Proposisi kedua:
    Inti atom pun yang sangat kecil itu pun sesungguhnya terdiri dari penyusun atom, seperti proton dan netron. Proton dan netron sendiri memiliki bentuk yang mirip dengan atom, yaitu satu mengorbit yang lain (walaupun modelnya agak lebih kompleks daripada model tata surya).
    Proton dan netron sendiri terdiri dari quark-quark yang juga mengorbit satu sama lain. Elektron yang mengorbiti inti atom juga tersusun dari quark. Akhirnya, quark-quark itu sudah terlalu kecil untuk dianggap sebagai sebuah titik dalam pengertian Fisika Mekanik. Fisika modern kemudian selalu menyebutkan properti dimensi dari quark ini dalam terma energi, sekian electro-volt, atau sekian Joule.
    Energi sesungguhnya adalah makhluk lain daripada materi. Energi hanya bisa diperhitungkan bila ia telah berinteraksi dengan keadaan lain, artinya indera tak berdaya menggapai energi itu kecuali akibat dari interaksinya.
    Artinya, kalau fisika mau konsekuen (sayangnya belum), sesungguhnya apa yang bisa dicerap oleh indera itu (materi) adalah hasil interaksi dari sesuatu yang di luar indera (energi).
    Jadi, apakah materi itu sesungguhnya maujud?
    Wallahu’alam bis shawab
    Salam.

  3. Assalamualaikum Wr. Wb.
    Artikel ini sunggung sangat menarik saya. Jika Saudara bisa menjelaskan lagi tentan KUANTUM khusus buat saya, saya akan sangat banyak terima kasih. Kini saya sedang mengumpulkan materi untuk penulisn buku KUANTUM ASMAUL UZMA. Buki ini merupakan tindak lanjut dari buku saya bestseller MUKJIZAT ASMAUL UZMA

News Feed