Tuhan dan Hal-hal yang tak Selesai

Buku Goenawan Mohamad terbaru ini berupa 99 esei liris pendek yang berangkat dari aforisme, mengikuti jejak Percikan Permenungan karya Roestam Effendi di tahun 1930-an. Angka “99”, dengan berasosiasi kepada 99 nama Tuhan menurut tradisi Islam, juga mengesankan ketidak -selesaian.

Isinya pada umumnya merupakan eksplorasi saat-saat religious, pengalaman puitis, juga renungan tentang Tuhan, iman, kematian dan kekuasaan.

Dalam mengembangkan pemikirannya, Goenawan Mohamad mengolah dan mengritik percikan filsafat Eropa (Heidegger, Levinas, Derrida, Marion, dan Badiou, misalnya), dan filsafat Islam, khususnya, Ibn Sina, Al-Ghazali serta Ibn Rusdh. Ia juga memakai bahan-bahan dari sastra Jawa klasik. Salah satu eseinya menunjukkan persamaan Serat Cabolek (khususnya tentang pertemuan Bima dengan Dewa Ruci) dengan meditasi Cartesian tentang subyek.

Kutipan dari buku Goenawan Mohamad, “Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai”

**

Demak: Pada suatu hari yang mungkin tak sebenarnya terjadi di abad ke-16, dengan sabar sembilan orang wali mendirikan mesjid pertama di kota pantai utara Jawa ini. Beratus-ratus tahun kemudian cerita terus beredar, bahwa salah seorang dari mereka, Sunan Kalijaga, menyusun tiang mesjid di Demak itu dari tatal: serpihan kayu yang tersisa dan lapisan yang lepas ketika papan dirampat ketam.

Saya bayangkan dengan takjub: sebuah mesjid yang ditopang oleh yang terbuang, yang remeh dan yang tak bisa disusun rata — bukan sebuah rumah Tuhan yang berdiri karena pokok yang lurus dan kukuh, dengan lembing dan tahta..

**

Dari riwayat yang rusak, manusia membayangkan satu titik di depan yang sempurna. Titik itu seringkali jelas ditegaskan, tapi sebenarnya ia adalah, untuk memakai kata-kata Laclau, sebuah “penanda yang kosong”. Kekosongan ini bukan berarti sesuatu yang sepenuhnya negatif. Justru penanda itu begitu menggetarkan dan menggerakkan kita, dan lahirlah damba. Dengan damba itu kita membuat sejarah untuk mengisi penanda yang kosong itu dengan sesuatu yang bisa yang ditandai secara memadai.

Tak mudah dijelaskan dari mana datang ajektif dalam penanda kosong yang melahirkan dan menggerakkan damba itu — katakanlah nilai “adil” dalam kata-kata “masyarakat yang berkeadilan”. Mungkin sebab itu orang berbicara tentang wahyu. Cerita tentang wahyu adalah cerita saat manusia jadi makhluk yang terbatas: ia mengalami persentuhan dengan Yang Tak Terbatas. Ketika wahyu datang pertama kali, demikianlah kisah Nabi Muhammad yang kita dengar sejak kanak-kanak, ia terguncang, ketakutan, dan menutup diri dalam selimut. Kefanaan dipaparkan dalam hubungan dengan yang abadi.

**

Iman lebih kaya ketimbang kemurnian. Iman adalah bianglala yang semarak. Yang menghendakinya sebagai sehelai pembalut putih yang steril lupa bahwa manusia bukan cetakan tunggal mumi Adam di atas bumi. Bahkan tak ada mumi, juga dalam kotak kaca, yang tanpa sejarah, tanpa ketelanjuran kebudayaan.

Yang kekal selamanya saling membelah dengan bumi yang guyah.

**

Yang menyangka ada jalan pintas dalam iman akan menemukan jalan buntu dalam sejarah. Tiap masa selalu ada orang yang mengembara dan membuka kembali pintu ke gurun pasir tempat Musa — yang tak diperkenankan melihat wajah Tuhan — mencoba menebak kehendak-Nya terus menerus. Di sana tanda-tanda tetap merupakan tanda-tanda, bukan kebenaran itu sendiri. Di sana banyak hal belum selesai.

Gurun pasir tak sepenuhnya dialahkan, dan cadar selalu kembali seperti kabut. Manusia bisa tersesat, tapi sejarah menunjukkan bahwa iman tak pernah jera justru ketika Tuhan tak jadi bagian benda-benda yang terang.

**

Tiap doa mengandung ketegangan. Doa selalu bergerak antara ekspresi yang berlimpah dan sikap diam, antara hasrat ingin mengerti dan rasa takjub yang juga takzim. Di depan Ilahi, Yang Maha Tak-Tersamai, lidah tak bisa bertingkah.

Bila ada agama yang memusuhi syair, itu karena ia lupa bahwa puisi juga sejenis doa. “Di pintu-Mu aku mengetuk/aku tak bisa berpaling”, tulis Chairil Anwar, antara lega dan putus-asa. Puisi, bahkan dalam pernyataannya yang tersuram, adalah rasa hampa tapi juga sikap bersyukur yang tak diakui.

 

www.utankayu.org

Profil GM 

gunawan.gif

Goenawan Soesatyo Mohamad (Karangasem Batang, Jawa Tengah, 29 Juli 1941) adalah seorang pujangga Indonesia yang terkemuka. Ia juga salah seorang pendiri Majalah Tempo.

Goenawan Mohamad adalah seorang intelektual yang punya wawasan yang begitu luas, mulai dari pemain sepakbola, politik, ekonomi, seni dan budaya, dunia perfilman dan musik, dan lain-lain. Pandangannya sangat liberal dan terbuka. Seperti kata Romo Magniz-Suseno, salah seorang koleganya, lawan utama Goenawan Mohamad adalah pemikiran monodimensional.

Tulisan-tulisan awalnya meliputi: Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972), Seks, Sastra, dan Kita (1980). Sementara tulisannya yang lebih aktual mencakup Parikesit dan Interlude (2001), Kata, Waktu (2001). Tetapi lebih dari itu, tulisannya yang paling terkenal dan populer adalah Catatan Pinggir, sebuah artikel pendek yang dimuat secara mingguan di halaman paling belakang dari Majalah Tempo. Konsep dari Catatan Pinggir adalah sekedar sebagai sebuah komentar ataupun kritik terhadap batang tubuh yang utama. Artinya, Catatan Pinggir mengambil posisi di tepi, bukan posisi sentral. Sejak kemunculannya di akhir tahun 1970-an, Catatan Pinggir telah menjadi ekspresi oposisi terhadap pemikiran yang picik, fanatik, dan kolot. Goenawan Mohamad juga punya andil dalam pendirian Jaringan Islam Liberal.(wikipedia)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 comments

News Feed