Skip to main content

Ucapkan Selamat Natal, eh Dipecat..

By December 14, 200712 Comments

“Saya mengucapkan Selamat Natal untuk menghormati Nabi Isa,” tandas Mohammad Shofan kepada Radio Nederland Wereldomroep. Tapi pengurus Muhammadiyah Cabang Gersik menilai pendapat Shofan itu bertentangan dengan ajaran Islam. Oleh karena itu mereka menuntut agar Universitas Muhammadiyah Gersik UMG memecat Mohammad Shofan sebagai dosen. Inilah nasib yang menimpa seorang dosen yang ingin muncul sebagai seorang muslilm pluralis dan toleran.

Pendapat mantan dosen Universitas Muhammadiyah Gersik ini tertulis dalam sebuah artikel yang berjudul Natal dan Pluralisme. Alasan teologisnya adalah surat Maryam ayat 33, tambah Shofan. “Di situ Al Quran mengucapkan selamat atas kelahiran Nabi Isa, “tutur Shofan mengutip ayat tersebut. Ditambahkannya, ia mengucapkan selamat natal itu bukan berarti ia mengakui bahwa Yesus itu adalah Tuhan. Mohammad Shofan juga menambahkan, bahwa tokoh Muhammadiyah seperti Amien Rais, Syafii Ma’arif dan Din Syamsudin juga mengucapkan Selamat Natal.

Tapi pengurus Muhammadiyah di Gersik berpendapat lain. Menurut mereka mengucapkan selamat natal itu tidak boleh, karena itu berarti ikut meyakini bahwa Yesus itu Tuhan. “Mereka juga mendasarkan dari fatwa Majlis Ulama, bahwa mengucapkan selamat natal itu haram,” tambah Shofah. Pimpinan Muhammadiyah Gersik menilai artikel Mohammand Shofan itu meresahkan warga di Gersik. “Kemudian ucapan natal itu tidak sesuai dengan keyakinan dan cita-cita hidup Muhammadiyah, dianggap tidak sesuai dengan AD/ART, dianggap tidak sesuai dengan putusan Majlis Tarjih dll,” tandas Shofan menjelaskan pendapat pimpinan Muhammadiyah daerah Gersik.

Mengenai ucapan selamat natal, Syafik menilai itu sah-sah saja. Tapi dia tidak akan mengucapkan langsung Selamat Natal demi menghindari kontro-versi. Dan Syafik Mugni juga menghargai hak orang-orang yang menentang pengucapan selamat natal, seperti pimpinan daerah Muhammadiyah Gersik.

Setelah rapat berkali-kali, pimpinan Muhammadiyah Gersik meminta rektor UMG agar menonaktifkan Mohammad Shofan sebagai dosen Universitas Muhammadiyah Gersik. Tuntutan mereka itu diperkuat dengan ancaman akan mengerahkan massa Muhammadiyah. Karena ancaman itu, akhirnya Shofan dipecat tanpa diberi kesempatan untuk memberi klarifikasi tentang artikelnya. Pada saat rapat Badan Pelaksana Harian (BPH) UMG diambil suatu keputusan untuk memecat Shofan.

Setelah diminta saran oleh Shofan, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr Din Syamsuddin menyarankan agar Shofan berkonsultasi dengan Prof. Syafik Mugni, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur. Guru besar ini menyarankan agar Shofan tidak menempuh jalur hukum. “Karena akan belarut-larut dan prosesnya akan panjang sekali,” tutur Shofan mengutip Syafik Mugni. Shofan akhirnya pasrah saja. Bagi dia yang penting kasus ini diketahui oleh media. “Sehingga paling tidak ini bisa dipublikasikan dan masyarakat menjadi tahu, Perguruan Tinggi Muhammadiyah itu bersikap seperti itu kepada saya,” jelas Shofan.

Ditanya apakah bisa berbuat untuk membantu Shofan, Prof. Syafik Mugni mengatakan kepada Radio Nederland Wereldomroep, bahwa dia tidak berwewenang untuk mempengaruhi keputusan UMG itu. Syafik Mugni: “Tidak punya wewenang untuk intervensi dalam masalah itu ke dalam universitas. Strukturnya itu langsung di bawah Pimpinan Pusat Muhammadiyah.” Prof Syafik menyarankan agar Shofan diberi peringatan dulu sebelum dipecat. Mengenai ucapan selamat natal, Syafik menilai itu sah-sah saja. Tapi dia tidak akan mengucapkan langsung Selamat Natal demi menghindari kontroversi. Dan Syafik Mugni juga menghargai hak orang-orang yang menentang pengucapan selamat natal, seperti pimpinan daerah Muhammadiyah Gersik itu.

Syafik menyadari bahwa sikap pluralis para pemimpin Muhammadiyah seperti Amien Rais, Syafii Ma’arif dan Din Syamsuddin, kurang dipahami oleh kebanyakan warga Muhammadiyah. “Itu memang terjadi perbedaan pendapat baik di kalangan Muhammadiyah atau di kalangan umat Islam secara umum,” tandas pimpinan wilayah Muhammadiyah Jatim ini. Untuk menghindari konflik seperti ini di masa mendatang, menurut Syafik, perlu diadakan banyak dialog terbuka. “Perbedaan itu harus kita hargai dan ini harus terus kita sosialisasikan. Tidak usah saling menyalahkan. Karena itu kenyataan bahwa kita berbeda pendapat, “tegas Syafik.

Prof. Syafik Mugni dan Mohamad Shofan tidak menutup kemungkinan bahwa alasan pemecatan Shofan ini bisa jadi bukan hanya karena kasus penghalalan mengucapkan Selamat Natal itu. Namun, menurut Syafik, Shofan tidak patut disanksi atau dipecat kalau alasannya hanya karena dia menulis artikel yang berjudul “Natal dan pluralisme” itu. (http://www.ranesi.nl)