WAFATNYA DIRI

Menciptakan “diri imaginal/virtual” itu boleh bahkan baik bila dibangun diatas harapan menjadi lebih baik bagi “diri real”. Bila didirikan diatas rencana-rencana negatif, ia justru melumuri “diri real” (nyata) dengan dosa-dosa horisontal dan vertikal.
“Diri imaginal” sebisa mungkin mencerminkan “diri real”. Jarak yang sangat jauh antar keduanya, membuka ruang hampa yang mudah terisi dengan kepura-puraan dan hasrat-hasrat agresi dengan bungkus agama dan narasi-narasi kebaikan.
Bila terlena dengan ruang hampa penuh imagi gemerlap alias matrix itu, “diri real” mengalami kematian karena terabaikan. Saat itulah, “diri imaginal” tak lagi terikat dengan norma-norma yang berlaku di dunia real.
Diri imaginal tanpa pasangan diri real adalah budak algoritma yang napasnya adalah perhatian diri-diri imaginal. Ia akan terus menyasar dan memangsa diri-diri imaginal baru yang polos dan tersesat dalam kabut imagi.
Saat sebagian diri-diri imaginal sadar, “diri real”-nya telah terbujur dalam keranda malu yang sedang bersiap diusung menuju liang sesal dan rasa bersalah.
Inna lillah wa inna ilaihi raji’un.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed