WAG

Sejak internet menjadi oksigen kedua, gaya hidup, pola pikir dan prilaku manusia digital mengalami lompatan yang tak terbayang beberapa tahun silam. Ia begitu determinan dan dominan sehingga tak menggunakan internet bisa dianggap sebagai makhluk purba.

Sosmed mulai mengambil alih pusat pendidikan dan lembaga riset dalam aneka bidang karena telah melejitkan bakat-bakat tersimpan dan mencetak banyak jurnalis, pengamat politik, agamawan bahkan sastrawan dan bijakawan dengan keragaman level kompetensinya. Seiring dengan itu beberapa pengujar kebencian, penyebar dusta, penipu, pelaku pemerasan dan aneka penjahat juga tumbuh subur dalam kubangannya.

Internet membuat orang lebih pede bahkan cenderung demonstratif dalam berkomunikasi dan mengutarakan pendapat serta kehendak karena subjek pelaku diwakili oleh identitas digital dan monitor dengan beban psikologis yang relatif ringan. Komunikasi antar manusia tak lagi dibatasi oleh semen dan batu. Ia menerjang batas kapan dan dimana. Di era sebelum WiFi menjamur, diskusi mailingliist yang disediakan Yahoo cukup diminati. Kini Whatsapp Grup menggantikannya.

Ada ragam prilaku manusia di zona algoritma ini. Salah satunya adalah kegemaran membuat grup terbatas dengan beragam titik temu dan subjek. Tak hanya itu, menshare berita atau tulisan adalah prilaku baru yang merupakan akibat langsung dari takdir internet dalam kehidupan kita.

Agresivitas dalam komunikasi membuat banyak orang terobsesi menjadi pusat perhatian dan pemengaruh dengan cara berebut posisi pertama dalam penyebaran informasi alias share. Saking serunya kompetisi ini, sebagian berita atau tulisan atau link atau clip yang disebar tak sempat dibaca dan dilihat oleh penyebar. Akibatnya, muncul kesalahpahaman atau tuduhan menularkan hoax yang dilanjutkan dengan klarifikasi atau ralat.

Menjadi kreator WAG yang dihuni oleh banyak orang bisa dianggap sebagai prestasi baru di dunia sosmed, apalagi bila seru dengan polemik politik. Diundang sebagai anggota di banyak grup juga bisa menjadi indikator prosentase sibukitas digital seseorang.

Kini ngerumpi juga naik level. Emak-emak sangat gemar bikin grup untuk ngerumpi politik pro capres tertentu yang dilukiskan mewakili mereka.

Tapi paling menakutkan adalah WAG yang menjadi tempat penangkaran para agen intoleransi dengan kedok pembelaan agama. Di situlah hoax, ujaran kebencian dan provokasi diproduksi secara intens.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed