WAHABISME MERAMBAH DESA

Kemarin setelah bukber dengan menu klotho’ dan sego jagung di rumah reot nan klasik (alias dibiarkan tanpa cat sejak cat pertama ketika dibangun) kami ngobrol ngalor ngidul dengan aneka tema yang dibahas secara semrawut.

Saya sesekali ikutan nimbrung sambil berusaha melupakan nyeri di telapak kaki yang sedang menjadi sasaran kesadisan kuku tukang pijat.

Di tengah lomba ngomong itu, Asmawi, sohibul bait, yang dikenal sebagai kyai muda nyeleneh karena tak bersorban dan tak merawat santri melontarkan gurauan yang menarik perhatian saya.

Asmawi menceritakan pengalamannya menjadi sosok yang diyakini oleh masyarakat di desanya sebagai kyai sakti. Dia bilang masyarakat desa umumnya mengkaitkan segala peristiwa dalam hidup dengan hal-hal gaib sehingga puskesmas kurang diminati dan dokter nyaris nganggur karena sakit fisik diyakini sebagai akibat santet atau gangguan jin.

Sesekali Hadi, mantan segala profesi termasuk penagih hutang, memberikan info tambahan tentang “dunia persilatan” ini. Pak Yasin, driver musiman mobil Phanter tahun 1995 malah mengaku yakin semua keluhan fisiknya akibat gangguan dari “dunia lain” karena merasa sering sembuh begitu dia melihat rumah praktik dokter tugas.

Para agen takfirisme yang dibekali dengan keahlian mengemas ayat-ayat tertentu untuk tujuan menangkal roh jahat (disebut ruqyah) plus hipnospeaking juga wawasan tentang budaya dan karakter masyarakat primordial telah disebar untuk memberikan pelayanan gratis diagnosa roh jahat dan terapinya.

Rupanya Asmawi, orang paling intelektual di daerah itu, mencium aroma wahabisme di balik trend ruqyah yang secara fiskal menggeser omset para kyai sakti alias kyai jezze’ alias pemegang ijazah atau semacam pusaka mantra yang diwariskan dalam rangkaian silsilah yang sulit ditelusuri.

Karena ingin menyaingi para ahli ruqyah, dengan terpaksa Asmawi mendeklarasikan sebagai ahli dalam bidang penaklukan roh jahat, jin, gendoruwo dan semua warga kerajaan hantu.

Ternyata para agen takfiri menggunakan modus sugesti “Anda bersedia untuk diobati?” Begitu pasien menganggukkan kepala dan menyatakan bersedia, bacaan ayat dilanjut dengan doktrin wahabisasi anti tahlil dan penolakan terhadap kyai via hipnosis langsung memasuki alam bawah sadarnya. Dengan metode tipu-tipu ini, wilayah santri diinvasi oleh para penghina maulid ini dan memangsa warga yang relijius dan polos.

Setelah kota-kota mulai dari kampus-kampus hingga perkantoran diduduki kaum anti bismillah, desa-desa yang merupakan basis historis kaum santri binaan para kyai adalah garapannya.

“Sejak saat itu, saya akan menghadang wahabisme dengan mengajarkan Doa Ukasyah,” tegas Asmawi menyudahi testemoninya.

Setelah dipijat, kaki saya yang mestinya lebih sehat, justru ngilu. Kapok wes!

News Feed