Waspadai Rabu Terakhir Shafar…!

Hari Rabu terakhir dalam bulan Shafar diyakini disebagai hari naas. Karena itu, terdapat bermacam riwayat yang menganjurkan dilakukan shalat dua rakaat demi menghindarkan diri dari kenaasaanya, bersedekah dan memabaca sejumlah doa khusus.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, Nabi bersabda, waspadailah hari Rabu karena ia hari sial. Diriawayatkan pula, setiap tahun 320.000 bencana turun pada rabu terakhir bulan Shafar. Dianjurkan untuk melakukan shalat dua rakaat dua kali (empat rakaat). Pada setiap rakaat membaca al-fatihah dan surah al-kautsar 17 kali, al-ikhlas 5 kali dan al-nas dan al-falaq masing-masing 1 kali.

Usai shalat, dianjurkan membaca doa sebagai berikut:

{يَا شَدِيْدَ الْقُوَى وَ يَا شَدِيْدَ الْمِحَالِ يَا عَزِيْزُ يَا عَزِيْزُ يَا عَزِيْزُ، ذَلَّتْ بِعَظَمَتِكَ جَمِيْعُ خَلْقِكَ، فَاكْفِنِيْ شَرَّ خَلْقِكَ يَا مُحْسِنُ يَا مُجْمِلُ يَا مُنْعِمُ يَا مُفْضِلُ يَا لاَ إِلٰهَ إِلاَّ أَنْتَ، سُبْحَانَكَ إِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ، فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَ نَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَ كَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِيْنَ، وَ صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ اٰلِهِ الطَّيِّبِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ

(Allaahumma yaa syadiidal quwa wa yaa syadidal mihal, ya ‘aziz dzallat liadhamatika jami’u khalqika ikfini min jami’i khalqika, ya muhsinu, ya mujmilu, ya mufdhilu, ya mun’imu, yaa mukrimu ya man la ilaha illa anta, bi rahmatika ya arhamar rahimin wa shallalhu ala Muhammadin wa alihiththahirin)

Wahai Zat Yang Mahakuat, wahai Zat Yang Mahaperkasa, wahai Zat Yang Mahamulia, sungguh rendah semua makhluk-Mu di hadapan keagungan-Mu, maka jauhkanlah kejahatan dariku makhluk-Mu, wahai Zat Yang Mahaindah, Pemberi karunia dan anugerah, tiada tuhan selain Engkau! Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim, kami terima untuknya, kami selamatkan ia dari kejenuhan dan kami selamatkan kaum mukminin, anugerahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya yang suci.

Secara etimologis, kalimat Rebo Wekasan berasal dari dua suku kata, yaitu rebo yang berarti hari rabu, dan wekasan yang berarti pamungkas, ujung, terakhir. Sedangkan secara terminologi, rebo wekasan dapat didefinisikan sebagai bentuk ungkapan yang menjelaskan satu posisi penting pada hari rabu diakhir bulan khususnya pada akhir bulan shafar, untuk kemudian dilakukan berbagai ritual seperti shalat, dzikir, pembuatan wafaq untuk keselamatan, dan sebagainya, supaya terhindar dari berbagai musibah yang akan turun pada hari rabu akhir bulan shafar itu.

Pemahaman ini bersumber pada penafsiran Al-Qur’an surat Al-Qomar ayat 19  “Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang pada hari nahas yang terus menerus”. (Q.S. Al-Qomar : 19)

Kalimat Yaumu Naĥsin disana difahami oleh sebagian ‘Ulamà sebagai hari rabu sebagaimana yang telah dikatakan Ibnu ‘Abbas, “Tidaklah suatu kaum mendapatkan siksa melainkan pada hari rabu”. dan diperkuat dengan perkataan Al-Qozwiny yaitu  “Hari rabu merupakan hari yang terdapat sedikit kebajikan, dan hari rabu pada akhir bulan merupakan hari sial yang terus menerus”.

Istilah Rebo Wekasan mulai dipopulerkan di Indonesia pada sekitar tahun 1987 Masehi. Kemungkinan besar istilah ini mulai disebarkan oleh para murid dan anak angkat dari Syeikh Shoghir/Ni’mat yang pada waktu itu beliau satu-satunya Hakim Mahkamah Syar’i di Mekah yang berasal dari kalangan melayu, selain itu beliau juga terkenal sebagai syeikh haji yang sangat masyhur pada zamannya. Pada tahun 1987 ini, kitab besar karya Syeikh Ni’mat yang berjudul al Bahjatu al Marďiyyaħ fī Fawāidi al Ukhrawiyyaħ, tertanggal 20 Sya’ban 1296 H/1878 M di Makkaħ al Musyarrafaħ mulai banyak diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, salah satunya adalah bahasa sunda. Namun tidak tahu persis siapa sebenarnya yang pertama kali menerjemahkannya kedalam bahasa Sunda.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

10 comments

  1. bro labib, apa ada qur’an dan hadisnya?, mewaspadai hari rabu!!, kayaknya tahayul tuh.
    maaf kalo memang itu benar, aku perlu blajar atau baca-baca buku di gramedia neh…

  2. Ass. Membuang sial pada Rabu di pekan terakhir bulan Shafar (Jawa: Rebo wekasan) juga dikenal di Kalbar, khususnya di bekas Kerajaan Mempawah (Kabupaten Pontianak). Di daerah ini dikenal dengan nama Robo-robo. Masyarakat, baik di keraton, rumah dan masjid/mushola di Mempawah mengadakan doa bersama tolak bala. Selain berdoa, masyarakat dan keraton memperingatinya sebagai napak tilas kedatangan pendiri kerajaan Mempawah, Opu Daeng Manambon. Sang raja pertama ini yang pertamakali mengajarkan doa tolak balak di hari Rabu terakhir Shafar. Tidak hanya itu, etnis Bugis juga melestarikan kegiatan Robo-robo ini, sepertiyang bermukim di Kubu Raya, Kota Pontianak dan Landak.

  3. Assalamu’alaikum Ustadz,
    Ana mau tanya bagaimana kaitannya dgn hadis berikut, mohon penjelasannya agar terbebas dari fitnah Khurafat:
    Rasulullah Saw bersabda: “Tidak ada wabah dan tidak ada keburukan binatang terbang dan tiada kesialan bulan Safar dan larilah (jauhkan diri) daripada penyakit kusta sebagaimana kamu melarikan diri dari seekor singa” (HR. Bukhari).
    Reply

  4. Assalamu’alaikum.. Tolong tabayunnya dan sanad dari hadis pada tulisan di alinea ke-dua “Dalam sebuah riwayat disebutkan, Nabi bersabda, waspadailah hari Rabu karena ia hari sial. Diriawayatkan pula, setiap tahun 320.000 bencana turun pada rabu terakhir bulan Shafar.”
    Kalwpun ada apa orang-orang yang meriwayatkannya tsiqah? Kalw hadisnya maudhu’ haram untuk di riwayatkan.. lagi pula Rasulullah apa iiya berkata “hari sial”

  5. Dikalangan masyarakat, ada suatu kepercayaan berkaitan dengan bulan safar iti, bahkan ada ritual atau upacara, yang dilakukan oleh sebagian masyarakat Islam berkaitan dengan kepercayaan itu. Kepercayaan ini diyakini oleh etnis Banjar, Jawa, Etnis Muslim di Sulawesi, Melayu Muslim di Sumatera, Malaysia, Brunei dan bahkan di Singapora.
    Sewaktu saya masih kecil, 50-an tahunan yang lalu, itu sudah ada.
    Ada kepercayaan bahwa bulan safar adalah bulan yang tidak baik, karenanya tidak dilakukan pernikahan atau kawinan, tidak membangun rumah, juga tidak bepergian jauh, khitanan dan berbagai kegiatan penting lainnya, khawatir terkena sial.
    Hari Rabu terakhir dari bulan Safar , tahun ini, Rabu 29 Shafar, tanggal 1 Januari 2014 nanti, dikalangan orang Banjar dahulu, disebut “hari Arba Mustamir”, sedangkan dikalangan orang Jawa dikenal dengan “Rebo Wekasan”.
    Apabila ada bayi lahir di bulan Shafar maka orang Banjar dahulu akan melakukan ritual “Batimbang” dibuatlah ayunan, sebuah sarung digantungkan pada ujung batang tongkat, satu sarung lagi pada ujung lainnya, si bayi ditaroh dalam sarung disatu ujung, di ujung lainnya dtaroh makanan berupa wajik, apam dll. Jika bayi dan makanan suah sama beratnya, timbangan kain itu sudah seimbang, maka dibacakan do’a selamat dan tolak bala, Lalu, makanan tadi dibagi bagikan sebagai sedeqah kepada yang hadir disitu,
    Hari Arba Mustamir atau Rebo Wekasan, dipercayai sebagai hari sial, mereka percaya bahwa pada hari itu Allah menurunkan 320.000 bala, sehingga hari Rabu ini adalah hari yang paling sulit dan rawan dalam tahun tersebut.
    Oleh karena itu, untuk menolak bala’ tersebut maka sebagian orang Melayu Nusantara, hingga di Malaysia, melakukan Mandi Shafar. bahkan sebagiannya menuliskan rajah-rajah tertentu di kertas lalu dimasukkan ke dalam bak mandi, sumur, dan tempat-tempat penampungan air lainnya. Sebagian orang Jawa mereka melakukan shalat di hari Rebo Wekasan itu. Shalat itulah yang kemudian dinamakan dan popular dengan istilah shalat Rebo Wekasan. Oleh karena shalat ini dilakukan untuk menolak bala’ maka shalat ini popular juga dengan istilah Shalat Lidaf’il Bala’ (shalat untuk mencegah bala’/musibah).

    Asal-usul kebiasaan ini adalah anjuran yang tertulis pada kitab “Mujarrobat Ad-Dairoby Al-Kabir” yang dikarang oleh Ahmad bin Umar Ad-Dairoby (Wafat tahun 1151 H), anjuran serupa juga terdapat pada kitab Hasyiyah As-Sittin dan sebagainya .
    Hanya saja, tidak cukup Cuma menukil sumber kitab ( meski berbahasa Arab ) untuk menilai sebuah amalan tergolong amalan yang syar’i atau tidak. Juga tidak semestinya jika langsung menerima sebuah anjuran hanya karena kitabnya, judulnya berbahasa Arab. Karena, sebuah amalan agar bisa disebut sesuai syar’iah, harus didasarkan pada nash, baik dari Al-Qur’an, As-Sunnah atau dalil yang ditunjuk oleh Al-Quran dan As-Sunnah. Suatu kepercayaan juga harus didasarkan pada dalil agar bisa disebut kepercayaan yang Islamy. Sebuah buku juga perlu diperiksa ulang untuk menentukan posisi buku tersebut dalam kajian hukum Syara.

    Kitab apapun, meski berbahasa Arab, tidak boleh dijadikan landasan dalam melaksanakan amalan-amalan sebagai Muslim, jika kitab itu dalam menganjurkan suatu amalan idak menggali dari nash Al-Quran dan As-Sunnah, tetapi malah menisbahkan dasar amalan dan juga kepercayaan kepada ucapan tokoh misterius yang mereka sebut dengan istilah “Ba’dhu Al-‘Arifin Min Ahli Al-Kasyfi Wa At-Tamkin” (Sebagian Ahli Makrifat yang punya ilmu Mukasyafah dan pangkat). Sebagian kaum muslimin malah memandang kitab Mujarrobat Ad-Dairoby ini sebagai kitab sihir dan perdukunan karena banyaknya hal yang dianggap Khurafat dan tidak berdasarkan dalil Alqor an dan Sunnah. Penilaian yang sama juga tertuju pada kitab serupa lainnya.

    Semua amalan yang disandarkan kepada Islam, ibadah apapun, yang tidak ada perintah dari Allah dan Rasul-Nya tidak boleh dilakukan. Barangsiapa melakukannya maka amalan tersebut tertolak. Rasulullah SAW bersabda;
    عن عَائِشَة أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَرَدٌّ
    “Dari Aisyah; bahwasanya Rasulullah SAW bersabda; barangsiapa melakuakn sebuah amalan yang tidak ada perintah dari kami maka amalan tersebut tertolak” (H.R. Muslim)
    Namun sayangnya, bilamana ada orang yang mengemukakan hadits ini sebagai dalil dalam memngoreksi amalan orang lain, maka yang dikoreksi akan menuduh orang yang mengoreksi itu sebagai golongan Wahaby, seakan akan Wahaby itu musuh Islam.
    Lagipula, ibadah adalah pengaturan hubungan Allah dengan hambanya. tatacara hubungan dengan Allah hanya mungkin ditunjukkan oleh para Nabi dan Rasul, karena tatacara itu diluar jangkauan akal manusia. Menerima tatacara ibadah yang bukan berasal dari Nabi dan Rasul bermakna menerima tatcara ibadah yang dirumuskan oleh akal atau berasal dari bisikan syetan.
    Dalam hal kepercayaanpun, setiap muslim wajib mengambil hanya dari Nash Alqor an dan Sunnah,tidak boleh dari desas-desus atau cerita “konon katanya”.
    Kepercayaan bahwa pada hari Rabu terakhir bulan Shafar Allah menurunkan Bala’ adalah kepercayaan yang tidak didasarkan pada Nash, karena itu tidak boleh diyakini.
    Kalau mengenai hari baik, waktu baik, tempat baik, itu jelas ada dasarnya dari Alqor an dan Sunnah. Kepercayaan mengenai waktu tidak baik, hari sial,

    1. Kepercayaan mengenai waktu tidak baik, hari sial, tempat, sial, orang membawa sial, banyak yang berasal dari kepercayaan Jahiliyyah, justeru itu dihapuskan oleh Islam. Rasululllah bersabda.
      عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لاَعَدْوَى وَلاَصَفَرَ وَلاَ هَامَةَ
      “Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya), tidak ada (kesialan) pada bulan Shafar, tidak ada (kesialan) pada burung hantu.” (HR. al-Bukhari no. 5717, dan Muslim no.2220)
      Oleh karena itu, jika saja pada bulan Shafar tahun kemaren, ternyata ada Yang melakukan hal yang merupakan upacara yang berkaitan dengan keyakinan bahwa bulan safar sebagai bulan tidak baik, hari Arba Mustamir atau rebo wekasan, maka dengan permohonan maaf, saya perlu menganjurkan agar hal itu tidak dilakukan lagi di bulan Shafar tahun ini, karena hal itu tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah, hanya didasarkan atas sebuah kitab mujarabat yang dipandang sebagai kitab sihir dan pedukunan.
      Janganlah kita menghindari orang atau seseuatu karena anggapan bahwa orang itu atau sesuatu itu membawal sial. Karena bila demikian, bisa jadi kita akan mendapatkan sial dengan orang lainnya atau sesuatu yang lain lagi.
      Dalam surat Yasin yang sering kit abaca.
      Auzu billah……
      قالوا إنا تطيرنا بكم لئن لم تنتهوا لنرجمنكم وليمسنكم منا عذاب أليم قالوا طائركم معكم أئن ذكرتم بل أنتم قوم مسرفون
      Saya berharap, jamaah semua sepulang dari Masjid ini, atau kapan saja nanti menyempatkan diri, untuk merenungkan apa maksud ayat ini, dan beberapa ayat lainnya dalam surah surah yang lain, yang ada kaitannya dengan ayat ini, bacalah terjemahannya, bacalah tafsirnya dan renungkanlah isi kandungannya.

  6. Rebo pungkasan bukan syar’i, bagi mereka yg ingin berdoa dg alasan tolak bala’ boleh saja, karena itu baik.( lebih/kurang demikian , Rahbar )

News Feed