WASPADAI VIRUS FITNAH ANTAR UMAT BERAGAMA

Saya baru melihat 2 video kiriman di beberapa WAG. Video pertama menayangkan seorang pendeta yang menampar pipi balita saat akan diberkati. Video kedua menayangkan bayi yang diazankan di telinganya.

Belakangan ini banyak info tulisan dan tayangan semacam itu yang beredar dalam media sosial terutama WAG yang menggoreng isu-isu agama dan SARA. Tak sedikit orang yang terpengaruh hingga ikut menyebarkannya.

Sulit untuk tidak menafsirkan bahwa dua video tersebut disebarkan dengan tujuan menampilkan dua cara berbeda dalam memperlakukan bayi atau balita dengan sisipan pesan provokatif kebencian kepada sebuah agama dan umat penganutnya sekaligus menebalkan fanatisme serta ekstremisme keyakinan.

Yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:
1. Sebuah peristiwa tidak akan pernah bisa dijadikan dasar untuk menilai secara general sebuah keyakinan dan para pemeluknya.
2. Penilaian benar dan salah terhadap sebuah keyakinan takkan pernah bisa dilakukan hanya dengan bekal sebuah tayangan video.
3. Bila setiap prilaku agamawan dalam sebuah agama dijadikan dasar sikap mendukung dan menolak, maka hal itu berlaku pula atas prilaku agamawan dalam agama lain.
4. Tolok ukur benar dan salah sebuah keyakinan adalah logika, bukan kasus negatif.
5. Sebuah agama takkan pernah bisa dianggap salah dengan dasar agama lain.
6. Provokasi kebencian antar umat beragama dan antar kelompok dalam setiap agama di era komunikasi digital adalah konspirasi pembodohan yang bertendensi dominasi politik dan ekonomi dalam skala global.
7. Para agen intoleransi yang merupakan jelata-jelata pemimpi khilafah memanfaatkan medsos sebagai sarana perekrutan dan pembiusan melalui penyebaran hoax dan info-info bermuatan ujaran kebencian terutama jelang Pilpres.

Setiap orang perlu membangun kesadaran tentang perlunya menjaga kesamaan dalam prinsip kemanusiaan dan kebangsaan sebagai asas toleransi serta membangun kewaspadaan rasional terhadap segala informasi demi menjaga kehormatan keyakinan masing-masing agar tak menjadi objek kebencian, cemooh dan provokasi.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed