Pariaman: Membuang Tabuik, Mengenang Imam Hussein

Acara tabuik adalah ritual keagamaan penganut Islam aliran Syiah yang ditujukan untuk memperingati kematian Imam Hussein, cucu Nabi Muhammad SAW, pada abad ke-7. Hussein tewas dalam Perang Karbala di Padang Karbala (wilayah Irak sekarang) ketika memimpin pasukan Islam melawan Bani Umaiyah dari Suriah yang dipimpin Raja Yazid.

 

Menurut kepercayaan pengikut Syiah, jenazah Hussein yang berserakan di tanah dijemput oleh bouraq dan dibawa terbang ke langit. Bouraq adalah hewan berbadan seperti kuda, tetapi bersayap lebar dan berkepala manusia. Hewan ini membawa peti jenazah dan memakai payung serta hiasan warna-warni.

 

Konon, saat bouraq akan membawa terbang jenazah Imam Hussein, salah seorang pengikutnya melihat dan meminta dibawa serta. Maka bouraq itu menolaknya dan berpesan agar membuat benda mirip dengan dia setiap 10 Muharam untuk memperingati kematian Imam Hussein. Maka dibuatlah tabuik yang menyerupai bouraq dan dibuang ke laut sebagai lambang bouraq yang terbang ke langit.

 

Tradisi membuang tabuik sampai ke Pariaman dibawa oleh sekelompok laki-laki penganut Islam Syiah dari Tamil, India. Mereka adalah pasukan Islam Tamil dalam tentara kolonial Inggris yang berkuasa di Bengkulu pada 1826 di bawah pimpinan Thomas Stamford Raffles.

 

Setelah pasukan itu dibubarkan, mereka memilih menetap dan berbaur dengan penduduk pesisir Sumatera, yaitu Bengkulu dan Pariaman, yang waktu itu merupakan pelabuhan laut yang ramai. Di Bengkulu juga ada tradisi semacam tabuik, yang disebut tabot. Namun, ukuran tabot lebih kecil daripada tabuik.

 

Prosesi tabuik ini berlangsung selama 10 hari. Acara pertama adalah pengambilan tanah pada 1 Muharam. Seorang laki-laki berjubah putih mengambil tanah yang berjarak sekitar 1 kilometer dari tempat pembuatan tabuik. Tanah dibawa dengan kotak–simbol peti jenazah Hussein–dan diiringi arak-arakan gendang tasa.

 

Ketika hiasan tabuik selesai 50 persen, pada 5 Muharam dilakukan penebangan batang pisang sekali tebas dengan sebilah pedang tajam oleh seorang pria berjubah putih. Ini melambangkan ketajaman pedang menuntut balas kematian Hussein.

 

Pada 7 Muharam dilakukan acara yang disebut maatam, yakni mengekspresikan kesedihan atas wafatnya Hussein. Prosesi ini dilakukan dengan meletakkan simbol jari-jari tangan Hussein yang dicincang Raja Yazid dalam alat bernama panja, simbol kuburan imam itu.

Para pengikut Imam Hussein kemudian menangis meratapi kematian Hussein. Malamnya, panja diarak keliling kota dengan ekspresi sedih para pengikutnya, diiringi gendang tasa.

 

Pada 8 Muharam dilakukan acara membawa lambang sorban, pedang, dan kopiah Imam Hussein yang diletakkan di atas dulang (talam) keliling kota. Iring-iringan ini diikuti gendang tasa yang bertalu-talu.

 

Pada 10 Muharam pukul 04.00 WIB digelar acara tabuik naik pangkat. Tabuik yang semula dibuat dua bagian–dengan bahan rangka dari bambu dihias kain dan kertas–disatukan dengan mengangkatnya.

 

Tabuik yang tingginya mencapai 12 meter ini diarak ke tengah kota diiringi gendang tasa dan teriakan. Tabuik diputar, digoyang-goyang, dan perlahan-lahan dibawa ke pantai untuk dibuang ke laut pada senja hari. Ini melambangkan bouraq yang membawa jenazah Imam Hussein telah terbang ke langit.

 

Dulu pembuatan tabuik dilakukan secara swadaya oleh masyarakat. Sejak 15 tahun belakangan, prosesi tabuik dijadikan agenda wisata dan didanai oleh Pemerintah Kota Pariaman. Agenda wisata budaya ini selalu menyedot banyak pengunjung dari berbagai daerah, bahkan turis mancanegara. Kota Pariaman yang biasanya sepi, hari itu sesak oleh manusia.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 comments

  1. Semoga indonesia semua yang mengikuti dan meyakini Rasulullah sebagai Nabinya, dan mencintai keluarganya. Bertafakur dan menambah keyakinan dengan mengeksplorasi dengan Iman yang 1 yaitu untuk mendekatkan diri Pada Allah. Bukan seperti anggapan orang 2 yang anti dengan Tahlil atau lainnya.Apalagi seperti orang-orang yang berkhianat pada islam dan berpura-pura islam hingga ia menuduh pecinta Keluarga Rasul dengan sebutan yang tak masuk akal. Semoga Cahaya Kebenaran segera Terbit………………Ahlul Bait.

  2. tahun bermulanya tabuik sama dengan perang paderi.
    memang nuansa perang paderi itu deket dengan percikan karakter Imam Husein. Watak org sumatera yg tidak takut mati seolah-olah merupakan percikan dr karakter keberanian Imam Husein. Semua keberanian org sumatera itu dikelola oleh org terberani di Sumatera Imam Bonjol. P Imam Bonjol adalah satu2-nya ulama disitu yg enggan utk belajar ke Mekkah. Semuanya anak buah2 beliau. spt Tuanku Nan Renceh dll memerlukan belajar di Mekkah selama 9th kurang lebih. Beliau lebih banyak mengambil ajaran kebijaksanaan2 Hamzah Fansuri.
    Sedangkan di Kalimantan ada P Antasari, yg seolah2 memiliki percikan karakter Imam Ali. P Antasari benar2 terjun sendiri di pertempuran.
    Di Sulawesi ada Sultan Hasanudin yang seolah2 memiliki percikan karakter Imam Hasan, yg memiliki kewibawaan tinggi, cerdas, pandai berpolitik.
    Sedangkan kelembutan org jawa seolah2 merupakan percikan kelembutan sayyidah Fatimah yang org terlembutnya adalah P Diponegoro.
    P Diponegoro adalah tipe org yang bisa berubah menjadi selembut air dan sekeras batu.
    wah agak klenik nih ya? tapi memang nusantara ini berjuang demi islam dgn mandiri.
    Saya sdh menemukan dua legenda yaitu legenda harimau di sumatera (sumbar) dan legenda Nyi Roro Kidul. menurut saya itu hanya simbolisme keberanian dan kelembutan. mungkin saja kedua perwujudan itu hanyalah perwujudan teknik bayangan imajinasi yg dibuat oleh Ratu Adil.
    Saya sedang akan mencari dua legenda lagi di anjar dan Makasar yg sesuai dg karakter asal muasalnya.

News Feed