YANG PERLU DIKETAHUI TENTANG BANGSA DAN RAS ARAB, SUKU QURAISY, KLAN BANI HASYIM, KETURUNAN NABI DAN ALAWIYIN

Entah karena malas mencari info, banyak orang salah paham tentang Arab, Quraisy, Bani Hasyim dan keturunan Nabi. Kesalahpahaman ini kadang digandakan dengan keracuan tentang makna, terapan dan cakupan ras, suku, klan, marga, bangsa dan keturunan. Tapi media kerap menyingkat nama Arab Saudi dengan Arab. Padahal ia hanyalah salah satu dari banyak negara Arab. Akibatnya, sering kali sikap kerjaan King Salman yang disingkat dengan Arab dipahami sebagai sikap bangsa Arab atau negara-negara Arab. Misalnya judul berita pertandingan sepakbola ditulis “Timnas Arab kalahkah Timnas Jordania”. Faktanya Jordania adalah satu negara anggota Liga Arab. Kata Arab adalah ejektif bagi kata Saudi, bukan nama negara.

Reduksi dan deviasi makna dalam kata umum bahkan pembuatan frasa baru yang telah diberi makna khusus yang telah disesuaikan dengan kepentingan politik atau sektarian merupakan senjata ampuh dalam arena soft war.

Kata “Arab” juga perlu dipahami secara benar. Ia adalah nama bagi ras, bangsa dan bahasa. Ia bukan nama negara. Arab sebagai bangsa adalah masyarakat yang merupakan penduduk mayoritas sebuah negara. Arab sebagai etnis dan ras tidak mesti menjadi bangsa Arab. Sebagian yang berasal dari ras berkumpul dalam satu wilayah sebagai bangsa, dan sebagian lain menyebar ke seluruh sebagai diaspora dan menjadi bagian dari aneka bangsa sebuah negara.

Dalam Wikipedia disebutkan, Bangsa Arab (Bahasa Arab: عرب ‘Arab) adalah salah satu dari suku bangsa Semitik yang mayoritas adalah penduduk di Dunia Arab, baik di Timur Tengah maupun Afrika Utara, serta sebagian minoritas penduduk di Iran, Turki serta komunitas diaspora lainnya di berbagai negara. Seseorang umumnya dianggap sebagai Arab dilihat dari latar-belakang mereka, baik secara etnis, bahasa, maupun budayanya. Secara politis, orang Arab adalah mereka yang berbahasa ibu Arab dan berayah keturunan Arab pula. Selain di Iran dan Turki, juga terdapat sejumlah besar diaspora Arab di Amerika dan Eropa.

Suku-suku Arab terdiri dari:

  1. Ba’idah (العرب البائدة): artinya punah, merupakan suku yang pernah tinggal di Jazirah Arab dan telah punah. Sejarah mereka sedikit sekali yang dapat diketahui, kebanyakan berasal dari Perjanjian Lama dan Al-Qur’an. Selain itu dari penggalian-penggalian arkeologis yang ditemukan. Mereka termasuk ʿĀd, Tsamud, Tasam, Jadis, Imlaq dan lainnya.
  2. Qahtani (العرب العاربة): Merekalah yang dianggap sebagai Arab asli yang berasal dari keturunan Ya’rub bin Yasyjub bin Qahtan bin Hud, sering pula dikenal dengan Arab Qahtan. Sebagian besar dari mereka tinggal di Yaman dan kemudian menyebar ke daerah lainnya. Peradaban mereka diketahui cukup tinggi. Dibuktikan dengan penemuan-penemuan arkeologis yang mengungkapkan cara kehidupan mereka. Sebagian dari keturunan dari Qahtani menyebar sampai ke Yatsrib, nama kuno untuk Madinah, yaitu Bani ‘Aus dan Bani Khazraj yang kelak menjadi pendukung Nabi Muhammad.
  3. Adnani ( العرب المستعربة). Mereka berasal dari keturunan Ismail (Bani Ismail) melalui anaknya Adnan. Suku Adnan yang dikenal dengan nama Quraisy adalan keturunannya.

Disebutkan pada awalnya Hajar merupakan budak yang membantu Sarah, istri Nabi Ibrahim. Ia didatangkan dari tanah Kan’an (Arab) untuk menemani Nabi Ibrahim, dalam perjalanan panjang dari Mesir menuju Makkah. Dari pernikahannya dengan Hajar lahirlah Ismail.

Ismail memiliki dua belas putra dan seorang putri: Nebayot, Kedar, Adbeel, Mibsam, Misyma, Mahalat/Basmat (perempuan), Duma, Masa, Hadad, Tema, Yetur, Nafish, Kedma. Beberapa sumber menyatakan bahwa Nabi Muhammad keturunan Nebayot, sebagian lain berpendapat keturunan Kedar. Keturunan Ismail biasanya disebut Arab al-Mustaribah (“Arab yang di-Arab-kan”), karena mereka bukan asli Arab dan mempelajari bahasa Arab dari penduduk asli setempat.

Quraisy

Quraisy (bahasa Arab: قر يش‎) adalah nama seorang leluhur dari nabi dan rasul agama Islam yaitu Muhammad. Nama lain dari Quraisy adalah Fihr (atau Fahr). Dalam bahasa lain, Quraisy juga disebut dengan “Quresh”, “Qurrish”, “Qurish”, “Qirsh”, “Quraysh”, “Qureshi”, “Koreish”, dan “Coreish”. Kakek mereka adalah Adnan putra Ismail.

Suku Quraisy (bahasa Arab: قريش‎ الأمة ) adalah suku bangsa Arab keturunan Ibrahim, yang menetap di kota Mekkah dan daerah sekitarnya. Klan-klan yang menetap di tengah kota disebut ‘Quraisy Lembah’ (Quraisy al-Batha), sementara yang menetap di daerah sekeliling kota disebut ‘Quraisy Pinggiran’ (Quraisy az-Zawahir).

Semula suku Quraisy mengikuti ajaran Nabi Ismail ‘ (AS) yaitu menyembah Allah dan mentauhidkan-Nya. Setelah beberapa lama akhirnya mereka lupa ajaran tauhid yang dibawa Nabi Ismail.

Hingga muncullah Amru bin Luhai, seorang pemimpin Bani Khuza’ah. Dia dikenal baik dan peduli terhadap urusan-urusan agama, sehingga semua orang mencintainya dan menganggapnya sebagai ulama besar dan wali yang disegani. Ketika dia mengadakan perjalanan ke Syam, di sana dia melihat penduduk Syam menyembah berhala dan menganggap hal itu sebagai sesuatu yang baik. Apalagi Syam adalah tempat para rasul dan turunnya kitab. Dia pulang sambil membawa Hubal (berhala) dan meletakkannya di dalam Ka’bah. Setelah itu dia mengajak penduduk Mekkah untuk menjadikan sekutu bagi Allah.

Bani Hasyim

Seiring perjalanan waktu meski bukan Arab asli, Quraisy menjadi suku terkemuka di Mekkah yang terbagu dalam beberapa klan, masing-masing memiliki tanggung jawab yang berbeda atas kota Mekkah dan Ka’bah. Ada sekitar 9 sub suku (klan) dalam suku Quraisy, antara lain Bani Hasyim, Bani Umayyah, Bani Kindah, Bani Asad, Bani Adi dan lainnya.

Bani Hasyim (bahasa Arab: بنو هاشم, Banu Hasyim) adalah salah satu klan dalam suku Quraisy yang merujuk kepada Hasyim bin Abdul Manaf. Hasyim adalah ayah dari kakek Nabi Muhammad S.A.W.. Anggota dari klan ini juga dapat disebut dengan al-Hasyimiyyun (الهاشميون,: Hashemites).

Bani Hasyim merupakan anggota dari marga Bani Abdul Manaf, marga yang paling terhormat dalam suku Quraish. Selain Bani Hasyim, cabang lainnya dari marga Bani Abdul Manaf adalah Bani Muththalib dan Bani Abdus Syams yang menurunkan Bani Umayyah. Selain itu Bani Hasyim juga menurunkan Bani Abbas yang kemudian menjalankan kekhalifahan setelah mengalahkan Bani Umayyah.

Keturunan Nabi

Nabi Muhammad adalah keturunan Bani Hasyim yang merupakan salah satu klan dari Quraisy (suku musta’ribah, bukan Arab asli). Dari pernikahannya dengan Siti Khadijah, lahirlah Siti Fatimah.

Dari pernikahan Fatimiah puteri Nabi Muhammad dengan Ali putera Abu Talib, yang merupakan paman terdekat dan pelindung Nabi SAW, lahirlah Al-Hasan dan Al-Husain dan Zainab.

Al-Hasan dan Al-Husain masing-masing melahirkan keturunan yang bercabang-cabang dan menyebar ke seluruh dunia. Mereka disebut alawityin atau keturunan Ali dan dipanggil sayyid (jamaknya sadah), syarif (jamaknya asyraf) dan habib (jamaknya habaib).

Al-Husain mempunyai banyak putera, namun semuanya gugur kecuali Ali Zainal Abidin yang sangat dihormati oleh seluruh umat Islam dan diyakini oleh kelompok Syiah sebagai manusia suci dan imam sebagai pelanjut ayahnya yang gugur di Karbala. Ali bin Husain ( Arab : علي ٱبن ٱلحسين زين ٱلعابدين ), juga dikenal dengan gelar al-Sajjad ( ٱلسجاد “Ahli Sujud”) dan Perhiasan Para Penyembah “

Putera pelanjutnya adalah Muhammad Al-Baqir Muhammad al-Baqir (مُحَمَّد ٱلْبَاقِر ) dikenal sebagai Abu Ja’far atau al-Baqir (“orang yang membuka ilmu”) (677-733). Ia adalah imam Syiah kelima. Dia punya banyak anak, namun Ja’far As-Sadiq adalah diyakini sebagai imam pelanjut ayahnya oleh kelompok Syiah. Ja’far As-Sadiq punya banyak anak, antara Musa Al-Kazhim yang diyakini sebagai imam dan adiknya, Ali Al-‘Urayḍī. Dari Musa Al-Kazhim lahirnya 8 imam secara berurutan hingga Muhammad Al-Muntazhar. Semua keturunan Musa Al-Kazhim dikenal Musawi (jamak: Musawiyyin) dan masing-masing bercabang dengan nama besar para imam setelahnya seperti Razhawi, Taqawi dan Naqawi.

Ali bin Ja’far , ( Arab : علي العريضي بن جعفر الصادق Ali al-‘Urayḍī ibn Ja’far ash-Shadiq ) lebih dikenal hanya sebagai Ali al-Uraidhi , adalah anak dari Ja’far al-Sadiq dan saudara Ismail, Imam Musa al-Kadhim , Abdullah al-Aftah , dan Muhammad Al-Dibaj. Dia dikenal dengan sebutan al-Uraidhi, karena dia tinggal di daerah yang disebut Uraidh, sekitar 4 mil (atau 6,4 km) dari Madinah . Dia juga dikenal dengan julukan Abu Hasan (yaitu ayah Hasan) yang dikenal cendekiawan dan perawi terkemuka. Keturunan Ali Al-Uraidhi dikenal al-‘Urayḍī (jamak : Uraidhiyin).

Alawiyin atau Keturunan Ba’Alawi

Salah satu cucu Ali Al-Uraidhi adalah Ahmad Al-Muhajir. Akibat tekanan penguasa, dia meninggalkan Basrah di Irak bersama keluarga dan pengikut-pengikutnya pada tahun 317H/929M dan berhijrah ke Hadramaut di Yaman Selatan. Cucu Ahmad Al-Muhajir, yang bernama Muhammad bin Ali Ba Alawi, adalah orang pertama dari keturunan Nabi yang dilahirkan di Hadramaut.

Alawiyyin (arab: العلويّن) adalah sebutan bagi kaum atau sekelompok orang memiliki pertalian darah dengan Nabi Muhammad. Sebutan lain untuk Alawiyyin adalah Ba’ Alawi. Ba’ Alawi ialah gelar yang diberi kepada mereka yang memiliki keturunan dari Alawi bin Ubaidullah bin Ahmad al-Muhajir. Seorang Ba ‘Alawi juga dikenali dengan sebutan Sayyid (Saadah, untuk sebutan jamaknya). Sebutan Habib adalah panggilan khas lainnya kepada kelompok keluarga ini.

Di Hadramaut setiap individu diidentifikasi melalui klan dan garis keturunan yang menjadi pengikat hubungan dalam unit-unit tribal sebagai elemen-elemen natural pembentuk masyarakat. Seiring bergulirnya daur waktu para alawiyin dari cucu dan keturunan Al-Muhajir menjadi sebuah klan besar yang terdiri atas puluhan klan dan marga.

Alawiyin di Indonesia

Keturunan Arab adalah sebutan umum untuk semua yang kakeknya datang dari Hadramaut ke Nusantara meliputi Alawiyin dan non Alawiyin.

Diaspora Arab diperkirakan telah datang ke Indonesia sejak abad ke-13. Sejumlah marga yang di Hadramaut sendiri sudah punah seperti “Basyeiban” dan “Haneman”, di Indonesia masih dapat ditemukan. Hal ini karena keturunan Arab Hadramaut di Indonesia saat ini jumlahnya diperkirakan lebih besar daripada di tempat leluhurnya sendiri, termasuk Raden kesultanan Palembang Darussalam merupakan keturunan arab Hadramaut.

Keturunan Arab di Indonesia terdiri atas ragam nama keluarga besar atau marga. Marga Arab Hadramaut (Fam Arab) merujuk kepada nama keluarga atau marga yang dipakai oleh keturunan bangsa Arab yang berasal dari daerah Hadramaut, Yaman. Penamaan marga sendiri dipilih berdasarkan kabilah, tempat asal, sejarah, kebiasaan, atau sifat serta nama nenek moyang golongan tersebut.

Secara umum keturunan Arab di Indonesia dapat dibagi dua; Golongan pertama yaitu marga-marga keturunan suku Arab Yaman asli, umumnya mengklaim sebagai keturunan Hadhramaut bin Gahtan, yang merupakan keturunan Nabi Nuh. Golongan kedua yaitu marga-marga suku Arab yang hijrah dari Basra, Irak. Golongan ini merupakan keturunan Ahmad bin Isa al-Muhajir (biasa disebut Alawiyyin atau Ba Alawi) serta para pengikutnya yang datang ke Yaman sekitar tahun 319 H (898 M). Ada puluhan marga dalam komunitas Alawiyin. Asseggaf, Alatas, Alhabsyi, Alhaddad, Alidrus, Almuhdhar, Alhamid dan BSA adalah nama-nama marga populer.

Para alawiyin di Indonesia mempunyai nenek moyang non-syarifah, dimana para Sayyid yang datang ke Nusantara setelah abad ke-18 tidak membawa wanita-wanita mereka dan kemudian menikahi wanita-wanita pribumi. Kaum muwallad Arab suka menyebut orang-orang pribumi non-Arab sebagai ahwal (saudara seibu mereka).

Bersambung……….

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed