Skip to main content

Yesus, Firman Tuhan

By December 23, 200740 Comments

yesus.jpg

Yesus, bersama para nabi, Nuh, Ibrahim, Musa, dan Muhammad saw, memiliki status khusus dalam Islam sebagai nabi-nabi terbesar, ulu’ al-‘azm, para duta luar biasa, yang membawa hukum ilahi. Yang terakhir diturunkan di antara mereka merupakan konfirmasi dari yang diturunkan kepada yang lainnya. Kebenaran wahyu tidak ditemukan di dalam partikularitasnya tetapi di dalam universalitasnya. Kita segera memahami ini ketika memahami ajaran-ajaran para nabi. Kenapa Al-Qur’an memberikan perhatian begitu banyak kepada nabi-nabi terdahulu?

Semua nabi telah membawa ajaran cinta, cinta Allah dan cinta tetangga serta bahkan cinta terhadap makhluk-makhluk-Nya yang terkecil sekalipun. Maka, dalam teks-teks Islam, kita mendapati Yesus memberikan beberapa makanan kepada makhluk-makhluk di laut. Pada saat yang sama, bagaimana pun juga, cinta ini tidak dibingungkan dengan sentimentalisme yang mencegah pelaksanaan hukum ilahi. Yesus melihat kesalahan orang-orang Yahudi munafik bukan karena kepedulian mereka terhadap bentuk-bentuk lahiriah agama, tetapi karena ketidakpedulian mereka terhadap bentuk-bentuk batiniahnya, yaitu karena mereka bersikap munafik.

Dalam al-Qur’an, terdapat sebuah ayat yang menggambarkan penghormatan yang begitu tinggi kepada Perawan Suci Bunda Maria, sedangkan Yesus digambarkan sebagai sebuah Kalimat dari Allah: “Wahai Maryam, sesungguhnya Allah memberikan kepadamu kabar gembira tentang sebuah Kalimat dari-Nya, namanya al-Masih putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan akhirat dan salah seorang yuang didekatkan (kepada Allah).” (3:45)

Tentu saja penafsiran mengenai logos dalam teologi Kristen berbeda dengan penafsiran kalimah oleh ulama Islam. Bagi Kristen, menurut Gospel John, Kalimah Allah dan Kalimah menjadi daging. Di lain pihak, bagi umat Muslim Kalimah adalah makhluk, bahkan sementara ia merupakan prinsip kreatif, karena ia berada dalam ucapan Allah dari kata “Jadi!” maka jadilah ia. Menyebut Kristus sebagai Kalimat Allah bukanlah untuk mendewakannya, tetapi untuk mentahkikkan statusnya sebagai nabi. Karena statusnya tinggi sebagai nabi, Yesus menjadi manifestasi sempurna dari Allah, orang yang menyampaikan pesan Allah, orang yang dapat berbicara atas nama Allah dan karenanya menjadi Kalimah Allah. Yesus menjadi Kalimah Allah bukan karena inkarnasi dengan jalan mana dagingnya bersifat ketuhanan (divine), tetapi karena ruhnya dibersihkan sedemikian rupa sehingga menjadi cermin yang dengannya Tuhan dikenal. Biara menjadi suci bukan karena kesucian dalam bangunannya, tetapi karena ia merupakan tempat menyembah Tuhan.

Selain digelari ‘Kalimat Allah’, Yesus juga disebut sebagai ‘Ruh Allah’, dan dalam beberapa narasi diriwayatkan dalam hadis Syi’ah istilah ini juga digunakan. Allah swt berfirman Sesungguhnya Al-Masih Isa putera Maryam itu adalah utusan Allah dan Kalimat-Nya dan Ruh-Nya.” (4:171)

Kata ‘Ruh Allah’ memberikan signifaksi pengertian universal, bahwa poros moral Kristen dan Islam itu sama. Umat Kristen dewasa ini berada dalam situasi pergolakan moral. Secara khusus gagasan-gagasan modern tentang apa yang benar dan yang salah dapat ditemukan dalam berbagai pemahaman para teolog, khususnya mengenai etika, bahkan tercermin dalam film-film futuristik produk Hollywood seperti Matrix dan X-Man.

Salah satu persoalan penting dalam teologi Kristen adalah: “Siapakah Yesus Kristus itu?” Formulasi berbagai jawaban terhadap pertanyaan ini disebut sebagai Kristologi. Dalam wilayah teologi ini, umat Kristen telah memperdebatkan pentingnya sejarah Yesus yang bertentangan dengan gambar Yesus yang terdapat dalam tradisi-tradisi Gereja-gereja Kristen dan pandangan Injil mengenai Yesus. Saatnya bagi umat Islam untuk mulai memperhatikan masalah ini juga. Melalui pengembangan Kristologi Islamiah kita dapat mencapai suatu pemahaman yang yang lebih baik tentang Islam sebagai pembanding atau pembeda dengan Kristenitas, dan Islam dalam persesuaiannya dengan Kristenitas juga. Sebenarnya al-Qur’an sendiri telah membimbing kita dalam mengambil langkah pertama dalam arah ini, seperti disebutkan dalam ayat-ayat tersebut di atas dan ayat-ayat lainnya.

Usaha bersama dalam ruang lingkup Kristologi Islamiah memang jarang dilakukan. Para penulis Kristen telah condong untuk menekankan pada hal fungsi Yesus sebagai juru selamat yang tampaknya tidak memiliki tempat di dalam Islam, dimana mengarahkan persoalan-persoalan pluralisme agama ketika umat Kristen saling bertanya apakah Kristus bisa menjadi juru selamat terhadap umat Islam dan umat lainnya yang bukan Kristen. Mesti diingatkan juga bagi umat Kristen bahwa umat Islam menerima Yesus sebagai juru selamat, bersama semua nabi lainnya, karena fungsi kenabian adalah untuk menyelamatkan manusia dari malapetaka dosa lewat penyampaian pesan petunjuk yang diturunkan oleh Allah. Perbedaan penting antara Islam dan Kristen di sini tidak melebihi isu mengenai apakah Yesus menyelamatkan, Islam menyangkal penyelamatan itu melalui penebusan melalui penyaliban, alih-alih membelokkan perhatian terhadap perintah yang diberikan dalam kehidupan para nabi.

Berkenaan dengan Yesus, lingkup pengetahuan Kristen, sebagaimana terdapat dalam Islam, cenderung menolak hadis dan hanya terfokus pada al-Qur’an. Seringkali penelitian menjadi polemik, para penulis berusaha mendukung sebuah penafsiran al-Qur’an sehubungan dengan Kristen ketimbang akidah Islam. Sebuah tinjauan umum dan pengantar terhadap masalah ini dapat ditemukan dalam Christ in Islam and Christianity karya Neal Robinson. Di lain pihak, umat Islam cenderung menghasilkan karya-karya polemik mereka sendiri-sendiri dengan menunjukkan berapa banyakkah di dalam Injil yang bersesuaian dengan pandangan Islam mengenai Kristus sebagai seorang nabi ketimbang sebagai seorang pribadi ber-Trinitas.Sehubungan dengan ini Ahmad Deedat menggarisbawahi hal-hal yang banyak menarik perhatian. Wawasan yang mendalam lagi mengenai berbagai perbedaan antara Islam dan agama lainnya, termasuk Kristen, dapat ditemukan dalam tulisan-tulisan Frithjof Schuon, Syekh ‘Isa Nur al-Din Ahmad, yang menghadirkan permulaan Kristolgi sejati perspektif Sufi dalam Islam and the Perennial Philosophy. Juga dalam The Muslim Jesus: Sayings and Stories in Islamic Literature, Tarif Khalidi telah mengumpulkan referensi-referensi Islam tentang Yesus dari abad kedelapan sampai delapan belas, termasuk karya-karya mistik, teks-teks historis tentang para nabi dan orang-orang suci (wali) dan berbagai seleksi dari hadis dan al-Qur’an.Sebagaimana digarisbawahi oleh Khalidi, tulisan-tulisan ini, membentuk suatu pola terbesar mengenai teks-teks yang berhubungan dengan Yesus dalam literatur non-Kristen.

Mungkin salah satu cara terbaik umat Kristen dapat menemukan landasan dalam berdiskusi dengan umat Islam adalah agar mengenal potret seorang Yesus yang terdapat dalam sumber-sumber Islam, yang terpenting adalah dari Al-Qur’an dan hadis, dan setelah itu, tak masalah apakah orientasi relijius seseorang.

Mungkin ada orang-orang Kristen yang akan menolak mengenai hal-hal yang berkenaan dengan Yesus dalam narasi-narasi Islam karena perdebatan utama tentang Kristologi kontemporer di antara umat Kristen adalah, apakah penelitian tentang sejarah Yesus itu relevan dengan agama, ataukah pengetahuan tentang Yesus membutuhkan perhatian atas peranan yang ia mainkan dalam Gereja dan dalam teologi. Riwayat-riwayat Islam, berabad-abad kemudian setelah masa hidup Kristus (dan dalam beberapa peristiwa lebih dari seabad setelah masa hidup Muhammad saw) juga akan ditolak oleh umat Kristen liberal dalam mencari potret Yesus yang berdasarkan pada tolok ukur penelitian sejarah yang belakangan justru diterima di Barat. Kristen Neo-Ortodok menyatakan bahwa Juru Selamat itu tidak ditemukan dalam sejarah tetapi di dalam Gereja, maka tidak mengherankan jika ia memperlihatkan ketidakpeduliannya atas apa yang Islam katakan tentang Kristus. Namun, Kristen dapat menemukan bahwa perspektif Islam menggarisbawahi landasan pertengahan antara penekanan sejarawan atas natural dan kependetaan atas supernatural. Kemanusiaan Yesus jelas dalam riwayat-riwayat Syi’ah, tetapi sebagai kemanusiaan yang bertranformasi, dan seperti tidak ada yang menyangkal mengenai dimensi supernaturalnya.

Menurut Nasr, apa yang dibayangkan kesarjanaan Barat mengenai dunia Islam yang sesungguhnya tidaklah sepenuhnya sama dengan konsepsi orang-orang Muslim sendiri tentang tradisi mereka dan perkembangan historisnya. Demikian pula dengan apa yang menjadi landasan penting untuk sebuah dialog yang berhasil. Bagi Islam, bukti kuat adalah bukti kepermanenan, yang meliputi realitas pusat Islam. Ka’bah masih tetap Ka’bah. Haji adalah apa yang ditunaikan Nabi Muhammad. Salat lima kali sehari seperti yang dilakukan Sang Nabi, dan syari’ah sebagaimana dikodifikasi atas dasar al-Qur’an dan Sunnah Nabi masih menentukan realitas kehidupan keagamaan orang-orang Muslim. Malah rincian-rincian lebih kecil tentang kehidupan sehari-hari yang diatur oleh Hukum Suci, yang lebih sentral daripada formulasi-formulasi teologis dalam Islam, tetap ada untuk sebagian besar sepanjang zaman.

Karena itu, membangun dialog antar agama tidak mesti diasarkan pada tujuan menciptakan satu formulasi baru dari agama-agama yang memang memiliki sejumlah titik beda dan temu. Itu berarti, yang mungkin dan relevan dilakukan adalah dialog antar pemuka atau pemikir agama-agama, bukan mendialogkan agama-agama yang berbeda-beda itu demi melenyapkan kendala-kendala bagi terciptanya toleransi.

Perayaan Natal semestinya tidak dipandang sebagai hanya sebagai hariraya kelahiran Yesus sebagai putra Bapak dalam persepktif teologi Kristen yang –agar tidak terkesan ekslusif-, namun juga perlu dipandang sebagai hari raya kelahiran Yesus, Sang Kalimat Allah dan Ruh Allah. Dengan demikian, tensi kecurigaan dan sinisme antar kedua penganut agama ibrahimi ini –terutama di Indonesia- dapat dikurangi bahkan diturunkan sampai titik rendah. Orang Kristen perlu memaklumi keyakinan orang Islam yang enggan menyalip’ Yesus, dengan tetap menghormatinya bahkan turut merayakan hari kelahirannya. Orang Islam pun demikian, perlu tidak merasa ‘murtad’ bila sekedar menyatakan kegembiraan atas kelahiran Isa yang diyakini sebagai salah satu Nabi dalam the big five (ulul-azmi).

Tentu kesadaran holistik ini perlu dibarengi dengan peningkatan pengahayatan terhadap agama masing-masing dan kesadaran tentang perbedaan antara agama suci dan persepsi subjektif tentang agama itu sendiri mungkin dapat dijadikan salah satu cara alternatif untuk meredam kekerasan struktural atas nama agama, mazhab dan paham keagamaan.

Ibnu al-‘Arabi, The Bezels of Wisdom (Fushus al-Hikam), terj. R.W.J. Austin (Lahore:Suhail,1988), hlm.177.

Neal Robinson, Christ in Islam and Christianity (Albany: SUNY,1991), Bab.2. Buku ini juga berisi tinjauan luas tentang bagaimana para sejarawan Muslim dan para apolog melakukan pendekatan-pendekatan yang berkaitan dengan Kristus dan Kristen, dan dan terdapat sebuah tinjauan terhadap berbagai tafsir Al-Qur’an mengenai ayat-ayat yang berkenaan dengan Yesus.

Misalnya, lihat Ahmed Deedad, Was Yesus Crucified? (Chicago:Kazi, 1992).

Frithjof Schuon, Islam and Perennial Philosophy (Lahore: Suhail,1985)

Tarif Khalidi, The Muslim Yesus: Sayings and Stories in Islamic Literature (Cambridge: Harvard University Press, 2003).