ZIKIR DARI SAKRAL KE PROFAN

Ia berasal dari kata dzakara (ذكر) yang berarti mengingat dan mengucapkan. Sebagian orang menganggapnya sebagai mantra-mantra dan ucapan magis.
Mengucapkan kalimat-kalimat Tuhan (menyebut) adalah ekspresi verbal “mengingat”. Menyebut namaNya tanpa mengingatNya tidak bermakna.
MengingatNya tanpa lebih dulu mengenalNya juga tak Zikir berdimensi intelektual, emosional dan fisikal (verbal).
Kini ucapan-ucapan yang bermakna zikir telah direduksi menjadi semacam celoteh bahkan diplesetkan hingga benar-benar terlempar dari maknanya yang sakral.
Zikir diplesetkan seperti Ya Allah jadi Jeile, astaghfirullah jadi astaga dan shalawat jadi seperti peluit berakhirnya tasyakuran atau selamatan.
Zikir juga dianggap sebagian orang sebagai pengganti wallpaper & kaligrafi yang menampilkan ayat-ayat demi keindahan atau penegasan kelas sosial.
Zikir sudah dikapitalisasi menjadi ornament-ornamen mewah dan tasbih-tasbih mungil yang bergantung di spion mobil. Verbalisme telah menjadi lifestyle.
Zikir bermakna banyak. Zikir paling mulia adalah kalimat Tauhid, la ilaha illallah, yang merupakan kata sakti dan titik temu mukmin.
Zikir Tauhid disebut tahlil, yang berasal dari kata هلل yang berarti mengucapkan la ilaha illallah. Aneh, bila Muslim membid’ahkan pengucapannya.
Pasangan zikir tauhid adalah zikir Muhammad Rasulullah. Sedemikian penting kata ini bila tak diucapkan berari tidak bertahlil.
Zikir tahlil adalah premis predikatif negatif universal ekskusif yang hanya bisa melahirkan premis predikatif afirmatif partikular.
ZikirTauhid memuat kata ilah (اله) dan Allah (الله) yang sering dimaknai secara berbeda hingga menimbulkan sengketa dan kontroversi.
Kata ilah banyak didefinsikan tapi yang paling populer ia adalah kata serapan dari Aramaik yang mengikuti wazan کتاب yang berarti yang ditulis.
Ilah berarti yang disembah dan dipuja yang sinonim dengan معبود (ma’bud). Ia juga dianggap sebagai bentuk tak definitif (tuhan dengan “t” kecil).
Allah adalah kata personal yang oleh para sufi disebut ism a’zham (nama teragung) atau lafzhul jalalah, simbol untuk Dia yang Tunggal.
Terlepas dari siapa yang berhak menyebut dan mengucapkannya, nama Allah bukankah zatNya namun namaNya yang paling mencerminkan Dirinya.
Diatas nama a’zham (Allah) adalah Huwa (Dia) yang dalam ayat-ayat diungkap dengan lailaha illa Huwa (Tiada tuhan selain Dia). Allah adalah Dia.
Karena Allah adalah nama personal paling agung untukNya, Dia boleh dipanggil dengan nama itu dan semua nama terbaik yang memang hanya milikNya.
Kita semua dan alam semesta adalah penampakan, simbol-simbol, nama-nama firman-firman dan tampilan-tampilan Muhammad adalah penampakan utama nama-namaNya.
Ikhtisar: tahlil harus dikembalikan kpada maknanya yang eksistensial, yaitu deklarasi ketakberadaan selainNya. Ia tunggal sebagai Wujud.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed