“ZONA BEBAS”

Kehendak dominasi dan egoisme akut membuat seseorang menghindari semua narasi logis yang akan membuatnya merasa terkekang dengan ketundukan dan kepatuhan. Wacana tentang supremasi kapabilitas dan asas kompetensi menjadi musuh utamanya. Tulisan-tulisan yang kaya proposisi aksiomatis membuatnya nervous dan berusaha untuk, paling tidak, tak meresponnya bila tak menentangnya.

Ketundukan dan Kepatuhan selalu disalahpahami oleh sebagian orang yang merasa terikat dengan agama sebagai ciri pecundang dan pertanda kehinaan. Padahal justru agama (mestinya) hanya dianut dengan syarat kepatuhan.

Karena memaknai kepatuhan secara doktrinal tanpa logika, dia membatasi kepatuhan pada aspek ritual semata. Akibatnya, dia mencurigai setiap wacana tentang keniscayaan logis dalam kehidupan komtemporer dan dinamis sebagai upaya merebut kekuasaan atau membatasi kebebasan atau melucuti kehormatannya.

Demi mengalihkan dirinya dari aksioma fitrah berkoordinasi sebagai ekspresi kesadaran akan posisinya dalam hierarki otoritas dan menghindari beban psikologis kepatuhan, dia mengamankan egonya dalam perkumpulan bebas seraya mengkonsumsi isu-isu liar, acak dan tak aplikatif.

Tema-tema mistik yang tidak aplikatif -karena terlalu sulit dilaksanakan dan tak tunduk pada otoritas logika yang tegas, seolah menjadi perisainya. Itulah zona aman baginya. Baginya, mistisme hanyalah pajangan dalam etalase mewah untuk dipuji dan diceritakan atau disebarkan, bukan untuk dilaksanakan setelah melewati fase inteleksi dengan konsekuensi aksi nyata dalam struktur aturan norma dan hukum yang hierarkis dan ketat.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed