“AGAMA KEKERASAN”

Hampir semua orang bilang semua agama menentang kekerasan. Tapi faktanya kekerasan kerap dilakukan oleh orang beragama. Karena itu banyak orang menganggap pelakunya bodoh, tak mengerti agama atau salah memahami agama. Tapi tunggu dulu. Persoalannya tak sesimple itu.

Pelakunya mempercayai nilai kebaikan dan mengaku membenci keburukan. Dia justru menganggap aksinya yang kita anggap sebagai kekerasan itu sebagai kebaikan dan ibadah yang diganjar pahala besar. Ini bukan bodoh tentang agama dan nilai kebaikan. Ini soal parameter nilai perbuatan.

Karena merasa percaya nilai kebaikan.dia beranggapan a) keyakinannya adalah kebenaran; b) keyakinan yang berbeda dengan keyakinannya adalah keburukan; b) keburukan adalah kebatilan: c) penganut kebatilan adalah musuh kebenaran; d) agresi terhadap musuh kebenaran adalah kebaikan.

Ada dua pandangan kontras dalam literatur Islam tentang parameter kebaikan dan keburukan. Sebagian menganggap nilai baik dan buruk ditentukan oleh ajaran agama (yang diimaninya). Sebagian lain menjadikan akal sehat dengan logika sebagai parameter nilai baik dan buruk, bukan dogma.

Konsekuensi dari pandangan “kebaikan dogmatis”, adalah doktrin “baik adalah sesuatu yang diajarkan oleh agama, dan buruk adalah yang tak diajarkan agama.” Tentu, “agama” dalam pandangan ini adalah info yang disampaikan oleh agamawan sekeyakinan.

Konsekuensi dari pandangan “rasionalitas kebaikan” adalah premis penolakan terhadap segala bentuk agresi (meski mungkin bertentangan dengan doktrin yang disampaikan agamawan seolah ajaran agama).

Dari paparan singkat tentang dua pandangan aksiologis dalam literatur teologi Islam di atas, kita bisa menguak mindset di balik intoleransi dan agresi orang- pelaku agresi dan kekerasan

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed