AKIBAT TELAT MOVE ON

Sejak lama komunitas ini menghadapi gangguan-gannguan internal berupa polemik-polemik samar yang sebenarnya tak perlu menciptakan kecanggungan dan semacam kerenggangan serta menghambat upaya konsilidasi menghadapi tantangan-tantangan eksternal terkait isu Sayyid atau dzuriyah jauh sebelum isu kontroversial seputar habib mencuat ke permukaan belakangan ini.

Dalam komunitas Syiah yang mulai sadar urgensi membangun identitas keumatan dan kebangsaan, tersisa dua kelompok kecil yang merawat mindset bawaan alias telat move on.

Kelompok pertama, adalah orang-orang ysng mengaku penganut mazhab Ahlulbait tapi kesulitan melepas pengaruh wahabisme yang terbiasa tak menghormati Nabi secara khusus, apalagi Ahlulbait, lebih-lebih dzuriyah.

Mereka terlihat canggung menerima teks anjuran penghormatan kepada dzuriyah Nabi karena beberapa stereotip mindset sebagai berikut :a) mengira penghormatan kepada sesama manusia apalagi sesama penganut agama apalagi semazhab bukanlah kewajiban; b) mengira penghormatan bersifat sama rata, tidak gradual sesuai posisi tertentu dan relasi penghormat dengan terhormat; c) mengira menghormati dzuriyah berarti memperlakukan mereka tanpa standar hukum agama dan hukum negara atau menganggap mereka kebal hukum; d) mengira menghormati orang lain, termasuk dzuriyah sama dengan merendahkan diri sendiri atau kultus; e) mengira menghormati dzuriyah berarti melakukannya dengan cara-cara baku, seperti mencium tangan dan mengangguk-anggukan kepala atau membungkuk; f) menduga menghormati dzuriyah berarti penghormatan kepada mereka sebagai person, bukan penghormatan kepada Nabi dan Ahlulbait; g) menduga bahwa semua dzuriyah yang bermazhab Ahlulbait mengklaim sebagai Ahlulbait dan menuntut sanjungan.

Logikanya, kalau kita menghormati Ahlulbait dan para imam suci bahkan mengaku sebagai pengikut dan mengistimewakan orang-orang Syian karena semazhab, mestinya tak keberatan menghormati para dzuriyah yang semazhab dengan penghormatan rasional sesuai pandangan mazhab tentang dzuriyah yang tidak suci dan bukan imam.

Kelompok kedua adalah orang-orang dari kalangan dzuriyah yang telah mengaku mengikuti mazhab Ahlulbait tapi terlihat berat melepas tiara kesucian yang memang bukan hak mereka yang mestinya disadarinya sebagai konsekuensi logis dan teologis.

Boleh jadi, terkesan mempertahankan simbol di awal nama atau mengklaim secara implisit klaim keistimewaan dengan bekal teks-teks tak terkonfirmasi objeknya bukan untuk menyombongkannya atau mengakui keunggulan tanpa standar ketakwaan, namun demi proteksi dan sebagai mekanisme pertahanan terhadap kelompok pertama yang lamat-lamat terdengar sinis tanpa praduga tak bersalah kepada setiap individu Syiah dari kalangan dzuriyah. Mungkin salah satu ekspresi pertahanan diri tersebut adalah mempersoalkan ekspansi pengertian atribut alawi mencakup “biologis” sebagai atribut primer dan esensial dan “ideologis” sebagai atribut sekunder dan populer alias simbolik.

Sebenarnya tak perlu cedas untuk memahami (kalau enggan mengapresiasi) kreasi istilah ini sebagai usaha mereduksi ketegangan dan merentangkan jalan menuju konsolidasi komunal.

  1. Memvonis “sayyid ideologis” sebagai bid’ah dalam istiah justru menkonfirmasi “bid’ah dalam istilah” adalah bid’ah dalam istilah. Itupun kalau “bid”ah dalam istilah” layak dipersoalkan.
  2. Membantah frasa “sayyid ideologis” sebagai predikat simbolik untuk para pengikut setia Ahlulbait seperti Jenderal Qasem Soleimani dan Ayatullah Behjat, tapi menerima pernyataan Nabi SAW “Salman adalah bagian dari kami Ahlulbait,” adalah pernyataan yang terlalu dipaksakan untuk dijadikan argumen. Justru frasa Ahlulbait lebih sakral dari sayyid.
  3. Menentang atribusi “sayyid ideologis” juga menkonfirmasi takwa sebagai dasar kemuliaan adalah atraksi paradoks yang melukiskan dilema dan ambivalensi akut (yang “mokso”).
  4. Menyoal makna simbolik sebuah atribut untuk orang-orang di luar sebuah komunitas atau organisasi sebenarnya bisa dianggap tragedi dalam literasi. Pemberian gelar simbol atau atribut kehormatan, seperti doktor honoris causa dan anggota kehormatan adalah bagian dari tradisi mulia dalam interaksi sosial yang beradab.

Cara mudah hidup sehat secara komunal adalah mengakomodasi sebanyak mungkin orang, termasuk yang bersikap negatif dan mengendalikan dari kehendak agresi terhadap orang lain, apalagi tanpa justifikasi yang logis demi mempertahankan mutual respect. Akan lebih mengundang penghormatan bila justru mendukung usaha klarifikasi yang proporsional dan edukasi yang relevan dalam menghadapi kepungan takfirisme dan membuktikan diri sebagai bagian dari bangsa yang majemuk ini.

Semula saya memutuskan untuk tidak menanggapi tulisan yang ditujukan sebagai kritik langsung atas salah satu tulisan saya seputar habib karena pertama, saya menghindari pertunjukan polemik yang tidak perlu; kedua penulisnya adalah teman masa muda yang hingga kini saya hormati. Tapi setelah mendapatkan protes bernada kecewa beberapa teman terutama kalangan non dzuriyah yang telah membaca tulisan saya sebelumnya, saya pun menyisihkan waktu untuk menanggapi balik tanggapan itu seraya memohon maaf kepada penanggap bila terdapat diksi yang tak patut.

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed