AL-QURAN TAK AJARKAN RASISME

AL-QURAN TAK AJARKAN RASISME

Tak bisa dipungkiri bahwa dalam al-Quran terdapat sejumlah ayat yang mengecam orang-orang beragama Yahudi dan masyarakat etnis Yahudi alias Bani Israel alias keturunan Nabi Ya’qub yang melalukan perbuatan-perbuatan tercela, antara lain membunuh dan mengkhianati para Nabi dari keturunan Yahudi sendiri.

Namun, berdasarkan prinsip rasional keadilan Tuhan, itu tidak bisa dianggap sebagai hukum determinan dan ketetapan abadi sebagai kutukan atas semua yang beragama Yahudi atau lahir dari ras Yahudi. Tak ada dosa keturunan.

Selain itu, terbukti pula Islam mewajibkan umatnya menghormati para nabi, yang sebagian besar berasal dari ras Yahudi.

Al-Quran tidak hanya mengecam tipu daya sepak terjang orang-orang Yahudi di Madinah yang melanggar pakta perdamaian, namun juga mengecam prilaku hipokrit dan penentangan ekstrem dan agresif orang-orang Arab,.bahkan sebagian umat Islam di Madinah.

[ads1]

 

Kecaman terhadap perbuatan zalim orang-orang Yahudi tidak hanya termaktub dalam kitab suci Islam. Sebelum al-Quran diturunkan, kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian baru juga memuat kecaman senada.

Terdapat sebuah populer dalam al-Quran “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela sampai kamu mengikuti agama mereka.” Tidak sedikit yang memahami ayat ini sebagai anjuran kebencian. Padahal secara rasional, Islam tak mungkin mengajarkan itu. Ayat itu adalah pemberitan yang mengandung peringatan agar umat Islam memegang teguh agamanya agar tidak mudah terpengaruh oleh ajakan penganut agama Kristen dan Yahudi. Al-Quran, sebagai kitab suci umat Islam melalui ayat tersebut ayat-ayat senada lainnya memperingatkan umat Islam dan mengajak mereka untuk waspada dan tidak melakukan pemaksaan.

Setiap penganut agama Islam, Kristen, Yahudi pasti menginginkan semua orang menganut agamanya. Itu adalah sesuatu wajar selama tidak melakukan agresi.

Dengan ayat itu, al-Quran mengecam ajakan denga agresi, tipu daya dan bertendensi kekuasaan.

Al quran, Injil dan Taurat adalah kitab-kitab suci dari Tuhan yang memuat banyak contoh kasus historis tentang penyimpangan dan pengkhianatan. Tujuan pengungkapannya adalah peringatan kepada semua manusia agar tidak melakukannya. Dengan kata lain, titik fokusnya adalah “apa”nya alias perbuatannya, bukan ‘siapa”nya.

Sayang, kebanyakan orang malah sibuk mengeskpos “siapanya” dan mengabaikan esensi perbuatan-perbuatan negatif yang diangkat sebagai contoh dan bahan peringatan itu.

[ads1]

 

Bahkan, ada yang menafsirkan ayat tersebut sebagai peringatan khusus kepada Nabi SAW. Berdasarkan Asbabunnuzul yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dalam Tafsir al-Baghawi, ayat ini bukan berarti semua Yahudi dan Nasrani benci kepada umat Islam dan menginginkan kita untuk pindah ke agama mereka, tapi memberitahu Nabi Muhammad untuk fokus dalam berdakwah mencari ridha Allah semata, bukan karena menginginkan kerelaan dari Yahudi di Madinah dan Nasrani di Najran.

Di luar itu semua, kita mesti sadar bahwa siapapun bisa melakukan kezaliman. Secara faktual terbukti agama formal seseorang tak mesti segaris dengan prilakunya. Siapapun, Muslim, Kristen dan Yahudi bisa menjadi zalim, intoleran, rasis dan zionis.

News Feed