ANTARA DAS SEIN DAN DAS SOLLEN

Sejak pendirinya wafat, sebagian besar lembaran sejarah para pemegang kekuasaan di dalamnya berbau anyir darah genosida kelompok “pembangkang’ dan pembersihan, perburuan, penyekapan, permenggalan manusia-manusia teladan, para bijakawan, filosof dan mistikus.

Penjajahan berupa ekspansi dan aneksasi dikenang sebagai perluasan agama dan masa kelam berkuasanya para tiran berjubah agamawan diagungkan sebagai masa kejayaan.

Hanya tersedia tiga pilihan; a) mempertahankannya sebagai pusaka nirlogika tanpa proyeksi yang jelas; b) menanggalkannya mengikuti Comte, Sartre dan Harari sebagai bagian dari peninggalan purba homo sapiens; c) mempertahakannya dengan mendekonstruksi klausa-klausa doktrinya dan merekonstruksinya dengan aksioma yang menkonfirmasi harapan.

Tanpa logika, ia adalah candu yang membius banyak orang dengan doktrin fatalisme atas nama keberserahan kepada takdir atau kumpulan dongeng yang takkan pernah lolos dari filter rasio waras. Ujaran kebencian yang dipuja sebagai bukti keimanan sudah cukup menjadi alasan untuk menanggalkannya.

Satu-satunya alasan mempertahankannya adalah harapan akan masa depannya. Ingat! Harapan bukan utopia, bukan god complex dan bukan sindrom. Harapan adalah afirmasi intelektual dari sebuah kesadaran logis tentang relasi niscaya dalam eksistensi dan kausalitas. Beragamalah dengan Das Sollen!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed