BANGSA YANG TAK HANYA BERAGAMA NAMUN JUGA BERAGAM

Boleh jadi sebagian besar tokoh besar dunia atau sebuah masyarakat masa lalu terlihat biasa saja pada masa berikutnya. Peristiwa tertentu dan sebuah momen penting kerap melejitkan sebuah individu tanpa keunggulan personal sebagai figur monumental yang menyisihkan banyak figur berbakat lainnya yang justru sejak awal dipersiapkan sebagai tokoh atau memenuhi sejumlah syarat personal untuk hadir sebagai somebody namun secara ironis seolah menjadi nobody karena kehilangan momentum. Orang cerdik yang punya determinasi meski tak pandai lebih berpeluang tampil sebagai influencer. Orang ambisius dan agresif walau tak punya moralitas tinggi sangat mungkin dipuja sebagai panutan.
Setiap masyarakat dengan karakteristik khas yang dibentuk oleh beragam faktor determinan juga punya standar nilai dalam merespon setiap peristiwa dan memperlakukan figur yang diciptakannya. Karena t didominasi oleh kelas yang lebih mengutamakan mitos yang mudah ditelan, mindset yang telah tercangkok secara temurun, rumor yang masif dan, tampilan yang sensasional, lazimnya mayoritas masyarakat tidak menganggap kapabilitas, integritas dan keunggulan moral sebagai kriteria ketokohan seseorang.
 
Peristiwa politik selalu menampilkan antagonisme dan protagonisme sesuai afiliasi dan kepentingan setiap kubu. Antagonis adalah protagonis bagi pendukungnya, dan sebaliknya. Karena mindset lebih diutamakan, data valid dan fakta otentik justru sering diabaikan dan dipandang sebagai pertanda kontra. Akibatnya, sentimen kebencian membuncah dan melahirkan polarisasi irrasional yang sengit. Lebih menyeramkan lagi ketika salah satu kubu atau kedua kubu yang bersaing menjadikan agama sebagai sarana memobiliasasi dan agitasi. Dalam kecamuk persaingan politik yang tak beradab, apapun bisa dipolitisasi dan korbannya tak melulu kubu kontra, bahkan sebagian besar adalah orang-orang yang tak berada dalam arena.
Karena setiap manusia adalah makhluk otonom dengan pertanggungjawaban, kewajiban dan haknya di tengah masyarakat, maka anda dan siapapun seyogyanya memilih sikap independen sepahit apapun risiko sosialnya. Sikap independen bisa afirmatif terhadap sosok politik atau tokoh agama atau lainnya dan bisa pula negatif sesuai pandangan yang dipilihnya tanpa perlu merisaukan feefbacknya. Ini bukan sekadar mendukung atau menolak klaim seseorang yang merasa merepresentasi umat Islam atau memihak atau memuja kelompok tertentu. Ini justru ekspresi self respect dan bukti kesadaran kemanusiaan, komitmen kebangsaan dan keumatan.
Siapapun boleh berteriak-teriak dan membakar umat yang mengerumuinya dan menutup telinga dari apapun yang buruk tentangnya tapi harus sadar bahwa tak ada yang berhak mengklaim representasi semua kelompok alias umat atau bangsa. Bangsa ini tak hanya beragama namun juga beragam.
Rika Nivariska, Hendi Is Haryadi Subandi dan 143 lainnya
1 Komentar
8 Kali dibagikan
Suka
 
Komentari
 
Bagikan
 
 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed