BIBIT EKSTREMISME DALAM PUSTAKA AGAMA

Setelah terjadi aksi-aksi teror di Mako Brimob dan beberapa gereja di Surabaya banyak tokoh yang kerap dikenal intoleran berlomba memberikan pernyataan yang semuanya berisi penafian pelaku tak beragama.

Jelaslah, bantahan-bantahan itu tidak jujur dan melukai hati para korban dan keluarga sekaligus menyepelekan masalah yang sangat serius yang sedang merundung bangsa.

Terlepas dari dugaan tendensi cuci tangan sebagian tokoh penggerak masa untuk membenci Pemerintah dan keyakinan minoritas di Tanah Air, radikalisme, ekstremisme, terorisme dan skriptualisme bukan ajaran baru dan bukanlah sebuah mazhab.

Teks-teks yang dijadikan dalil bertaburan dalam banyak kitab yang menjadi sumber rujukan. Hanya saja, penafsirannya disesuaikan dengan mindset skriptualisme dan doktrin anti aksl sehat juga logika.

Bibit ekstremisme memang tertanam lama sejak abad-abad pertama dalam sejarah Islam. Ia bukan hasil rekayasa politik. NII adalah fenomena yang muncul sebelum terorisme di era modern.

Banyak ceramah, khotbah dan tausiyah bahkan materi pelajaran yang memuat anjuran intoleransi secara temurun.

Gerbang ekstremisme adalah anti logika. Dengan menolak peran akal sehat sebagai alat filter info-info tentang agama yang dilukiskan sebagai virus anti Tuhan, para instruktur teologi kebencian dengan mudah menjadikan ribuan manusia minus akal sebagai robot relijius tanpa hati, tanpa cinta, tanpa empati bahkan tanpa pertimbangan apapun.

Karena menganggap baik dan buruk ditentukan oleh agama dan karena menganggap info dan doktrin tentang agama yang dijejalkan murabbi sebagai agama, maka menganggap apapun yang dianggap baik murabbi sebagai baik, termasuk mencabut ketenangan orang lain, meski buruk menurut akal sehat.

Bila akal sehat tak berfungsi sebagai alat penentu baik dan buruk, apa alasan menganut agama? Mungkinkah agama dianut tanpa dipastikan baik?

Ajaran dan info agama yang tertera dalam kitab-kitab dan ceramah harus discan dengan akal sehat dalam kerangka logika.

loading...