Bukan Konflik, Tapi Penganiayaan

Di era sosmed media konvensional justru mengalami penurunan kualitas, terutama keredaksian, misalnya dalam pilihan diksi yang kerap reduktif bahkan manipulatif meski mungkin tak disadari.
 
Salah satunya adalah menganggap aksi massa beringas yang menyerang sekelompok warga di Solo yang sedang melaksanakan sebuah hajatan keluarga sebagai konflik dan hiporbola offside lainnya.
 
Tak ada konflik sektarian juga tak ada perang. Konflik dan perang hanya terjadi bila ada dua kelompok bersiaga saling serang. Tak ada konfllik di Solo Syiah vs Wahabi di Solo.
 
Penegasan ini diperlukan agar kasus kejahatan ini tidak menjadi bahan pengembangan bakat retorika dan ajang penyaluran hobi teater yang justru menggeser substansi kejahatan kolektif ke konflik sektarian dan berpotensi merugikan pihak korban dan komunitasnya.
 
Solo dan seluruh kota di Indonesia adalah taman kebhinekaan yang hendak dirusak oleh segerombolan orang yang terinfeksi virus ekstremisme, radikalisme dan intoleransi, bukan medan tempur.
 
Merdeka!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed