“BUSANA TAKWA” DAN POLITIK

Yang menetap di Jakarta hampir pasti kenal daerah ini. Jalan yang sempit itu selalu ramai dan padat. Dari mulut jalan yang terhubung dengan pertigaan super semrawut berderet toko dan kios yang memajang aneka perangkat keras kesalehan dan sarana sorga mulai dari poster aneka sufi dan habib, celak, parfum sampai rebana untuk Hadrah dan sabuk hijau tradisional ala Benyamin.

Para pegawainya pun terlihat nyantri lengkap dengan kostum ala anggota majelis taklim, mereka ramah menyambut pembeli seraya menikmati musik-musik qasidah atau ceramah teriak-teriak yang intinya memberitahu kita bahwa “kita sedang dikepung” dan senadanya.

Jelang pemilu toko-toko itu makin ramai. Permintaan melonjak. Memahkotai kepala dengan songkok dan membungkus tubuh dengan koko apalagi mengikat kepala dengan selendang sudah ditetapkan sebagai gaya busana orang relijius alias saleh alias bertaqwa menurut mainstream.

Tak hanya berlomba dalam peragaan busana relijius, orang-orang yang punya hajat politik berlomba mengunjungi agamawan, menziarahi kuburan wali-wali, menghadiri majelis taklim dan tablig, menghentikan ceramah karena jeda azan, bahkan memaksa lidah untuk melafalkan aneka kalimat agama sesuai regulasi kaidah tajwid dan makhrojul huruf. Ini dianggap sebagai lebih efektif dan lebih murah daripada money politic.

Pada dasarnya, busana apapun takkan pernah salah karena salah dan benar adalah nilai rasional atas subjek rasional. Busana juga takkan pernah buruk karena baik dan buruk mengikuti kondisi-kondisi yang tak sama. Nilai baik dan buruknya tergantung kepada siapa, di mana, kapan, bahannya, tujuannya cara memakainya dan lainnya.

Yang mungkin salah dan bisa benar adalah pikiran orang yang menggunakannya. Pikiran itulah yang mengarahkan tujuan di balik penggunaannya.

Memakai busana apapun juga tak melulu baik atau selalu buruk . Selama ia dibeli dengan uang sendiri dan tak digunakan untuk menipu dan aksi negatif lainnya, mengenakan koko dan semacamnya adalah baik. Selain baik, memakai koko bahkan gamis adalah bagian dari hak asasi.

Kita tak boleh menafikkan sejumlah busana yang disepakati oleh masyarakat umum sebagai pakaian sopan untuk acara-acara formal dalam instansi dan lainnya.

Kita juga tak bisa menolak adanya busana yang menurut agama merupakan pakaian ketakwaan. Allah berfirman, Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik.” (QS. Al-A’raf: 26). Namun, kita jangan keburu membatasi makna “pakaian takwa” dalam bentuk tertentu. Secara umum, pakaian yang menutupi aurat adalah pakaian ketakwaan.

Tentu itu tak berarti pemakainya pasti bertakwa. Justru, takwa sebagai sesuatu yang immaterial dilustrasikan sebagai busana karena busana berfungsi sebagai pembungkus tubuh dan takwa berfungsi sebagai pembungkus jiwa. Ayat di atas bermakna anjuran agar manusia melindungi dirinya dengan takwa sebagaj sistem kendali rasional atas gerak tubuhnya.

Memang sebagian pakaian terlanjur identik dengan intoleransi dan ekstremisme pemakainya seperti celana cingkrang dan cadar. Namun tetap saja, pakaian bukanlah teroris.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed