CINTA DAN PENGORBANAN

Cinta horisontal antar manusia acap kali dikuduskan dan dilukiskan sebagai rasa yang suci. Tak sedikit orang yang terjerumus dalam penyembahan makhluk dengan menganggap kekasih mutualnya sebagai “segala-galanya” dengan ragam ekspresi lebay dan tak proporsional. Saat gagal menjalin atau mempertahankan relasi ini banyak manusia yang kehilangan kendali rasio dan sebagian bahkan merasa gagal hidup. Padahal ia hanyalah buah relasi kebutuhan mutual yang temporal, meruang, transaksional, relatif dan profan.

Cinta horisontal hanya bermakna sakral bila ditautkan dengan cinta vertikal, yaitu cinta eksistensial antara yang membutuhkan dan yang dibutuhkan dalam rangkaian dan gradasi yang terjuntai hingga sentrum cinta yang maha sakral, abadi dan tak meruang.

Inilah cinta yang menjadi energi pembentuk alam dengan semua entitas besar dan kecil dalam altar wujud. Inilah cinta yang memadukan petir dengan mega, angin dengan debur ombak, lolongan srigala dengan bundar purnama.

Cinta vertikal mendorong Zainab mengorbankan cinta horisantalnya saat mengangkat bayi berlumur darah ke langit seraya berucap “Ya Allah terimalah hadiah kecil ini…!”

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed