DIAM, SENYUM DAN NYERI

Umumnya, sebuah pribadi menjadi istimewa bagi seseorang dan banyak orang karena kesuksesan, kepintaran, kiprah, relijiusitas dan hal-hal yang dipandang positif. Tapi sebagian orang menghormati sebuah pribadi justru karena ketabahan, kepolosan, kepenerimaan dan kesenyapannya merawat derita.

Allah memilih segelintir orang sebagai bahan renungan dan referensi evaluasi serta alasan bagi banyak orang untuk bersyukur, peduli, berempati dan menjaga cinta. Allah memilih sebagian orang sebagai bahan bagi orang-orang lain untuk bersabar, tawakal, dan menerima posisi yang tak diinginkan oleh banyak orang. Setiap orang diuji dengan cara yang berbeda. Itulah hukum dialektika dan kemakhlukan yang menetapkan perbedaan dan harmoni.

Wanita yang menjadi ibu bagi ibu anak-anak saya tak punya apa-apa selain senyum, diam dan nyeri penyakit yang secara perlahan dalam durasi panjang mengubah pola geraknya, melucuti kecantikan parasnya dan menggorogoti organ-organ penting dalam tubuhnya.

Orang yang tak mengenalnya akan terkejut bila tahu usianya belum 60 tahun. Sejak berumur 40 tahun stroke mengubah alur hidup, membatasi pergaulan, menyempitkan area geraknya juga menyingkat kosa katanya dalam komunikasi. Dengan tetap mengulas senyum sebagai isyarat “Saya tak rapuh”, dia memaksa tubuhnya yang tak lagi tegap lurus melintasi lorong dari rumah kontrakannya menumpang ojol menuju majelis doa dan taklim atau menjalani terapi di RS 2 hari dalam sepekan.

Kepergiannya menghantam dinding kesadaran dan membanting koginisi pria yang kini berusaha bangkit dari rasa bersalah yang meremas sukmanya. Mohon doa untuk Syarifah Aminah binti Hasan Almuhdhar.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed