DISKRIMINASI ADALAH BIANG KERUSUHAN

Bila setiap warga diperlakukan secara setara sesuai asas kebhinnekaan, bukan asas sebuah agama yang tak dianut semua warga, tak ada alasan menolak menjadi bagian dari bangsa ini.

Tapi apa arti kebangsaan bila sebagian elemen bangsa dipinggirkan?! Apa arti kebhinnekaan bila negara hanya didominasi satu kelompok keyakinan, satu suku, satu etnik, satu ormas, satu daerah?! Apa arti “negara hukum” bila tebang pilih berdasarkan kepentingan dan risiko politik?

Mana mungkin terus menerus menyuruh sebagian elemen pembentuk bangsa bersabar, mengalah dan merelakan kelompoknya karena minoritas diintimidasi, diremehkan dan diragukan loyalitas kebangsaannya tanpa perlindungan legal dan sosial?

Sampai kapan beberapa.elemen etnik minoritas yang kerap jadi objek cemooh dan diskriminasi rasial tetap berusaha mencintai mayoritas bangsa yang mengabaikannya, atau memperlakukannya sebagai asing atau menyesatkannya dan mengkafirkannya.

Tak perlu bicara muluk-muluk tentang kebangsaan dan patriotisme untuk membuktikan cinta negara dan bangsa. Cinta sebagai hakikat abstrak tidaklah sama dengan cinta sebagai kata. Ia adalah buah penghargaan mutual, efek dari pemberian hak yang sama dan laba dari rasa aman. Itulah esensi kebangsaan.

Konflik demi konflik, kerusuhan yang silih berganti, pemberontakan-pemberontakan dan seabrek persoalan sosial dan politik yang menimpa bangsa ini mengisyaratkan perlunya menyegarkan kembali arti kebangasaan, kewarganegaraan dan supremasi asas bernegara yang melampaui keyakinan, kesukuan, kedaerahan dan sebagainya.

Dalam situasi yang krusial ini negara dalam arti sebenarnya harus ditegakkan dan bangsa dalam arti sejatinya harus dihadirkan. Pancasila memang bukan agama tapi ia ada dalam semua agama.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed