DISKUSI ATAU KOMEDI?

DISKUSI ATAU KOMEDI?
Kalau bertujuan menghadirkan dialog berimbang dan fair, mestinya menghadirkan tokoh-tokoh kompeten yang sepadan dari dua kubu.
Mestinya agamawan dihadapkan dengan agamawan dan intelektual didialogkan dengan intelektual, bukan pegiat sosmed dan seniman.
Bila dialog tak berlangsung berimbang karena Kendala kompetensi, yang lebih tepat dikritik adalah pengundang, bukan terundang.
Mau dialog? Mau adu argumen? Supaya tidak jadi lomba ngomong, perlu tahu sistem dialog yang efektif.
Dialog efektif adalah yang diawali dengan pra dialog guna menyepakati poin-poin utama yang akan dijadikan sebagai dasar penilaian terhadap pendapat kedua peserta dialog.
Poin-poin utama yang perlu disepakati agar mengikat konsekuensi adalah:

  1. Dua peserta perlu menyepakati pilihan kata dan frasa atau terma akan yang digunakan.
  2. Dua peserta perlu menyepakati makna khusus setiap kata dan frasa yang akan digunakan.
  3. Dua peserta perlu menyepakati area pembahasan isu, berupa data (mafhum) dan fakta (mishdaq) setiap kata kunci yang menjadi simbol verbal isu utama dalam dialog.
  4. Dua peserta perlu menyepakati dasar dan sumber rujukan yang akan digunakan.
  5. Dua peserta perlu bersepakat merelatifkan pendapat yang telah dipilihnya sehingga berpeluang untuk menerima pendapat peserta lain apabila terbukti secara argumentatif berkonsekuensi invaliditas dalam koridor poin-poin yang disepakati.
  6. Dua peserta perlu menentukan standar penentuan “menerima pendapat” salah satu anggota dan mendeklarasikan pengakuannya dengan elegan dan simpatik.
  7. Dua peserta perlu bersepakat mematuhi etika komunikasi, antara lain tidak menggunakan argumentum ad honinem, bahkan menghindari penyebutan nama seseorang, lembaga dan lainnya yang bisa menimbulkan ketegangan.
  8. Silakan merayakan gol, tapi jangan merayakan kemenangan sebelum pluit panjang ditiup. Euforia prematur adalah tanda kekalahan.

Saran untuk panitia dan moderator, jangan mengundang penari salsa untuk adu kemahiran tari balet melawan para balerina.
Hanya karena berkuasa secara visual dan jurnalistik tak berarti bisa leluasa mengokupasi kepala setiap orang.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed