“DOA YANG MEREPOTKAN”

Siapapun yang menghindari penyebab infeksi virus pasti tak terinfeksi meski tak berdoa. Siapapun yang tak menghindari penyebab infeksi pasti terinfeksi meski berdoa.

Menghindari penyebab infeksi adalah syarat terkabulnya doa memohon keselamatan. Hasil dan bukti terkabulnya adalah tumbuhnya kesadaran tentang bahayanya virus sebagai bekal menghindari agar selamat.

Doa keselamatan bukan pengganti disinfektan tapi pembangkit kewaspadaan dan antisipasi. Keselamatan paling utama adalah keselamatan akal sehat agar mengetahui relasi niscaya antar subjek alam yang mendorong manusia pendoa menghindari pelenyap-pelenyap keselamatan.

Memohon keselamatan dengan doa tapi tak menghindari penyebab infeksi adalah “permintaan yang merepotkan” karena seolah menyuruh Tuhan memenuhi permintaannya mencabut hukum kausalitas dan membatalkan hukum fisika yang telah Ia tetapkan atas alam, termasuk pemohon dan virus.

Virus Covid 19 adalah semi makhluk hidup yang memerlukan inang untuk aktif. Banyak yang bisa menjadi inang pengaktifnya. Salah satunya adalah falasi tentang Tuhan juga kausalitas dan hukum fisika yang semuanya merupakan fondasi keberagamaan.

Tak perlu jadi relijius dan jadi alim untuk memahami masalah sebenderang ini. Tak perlu kutipan teks suci untuk jadi homo sapien yang tak merugikan keselamatan orang lain.

Tapi bila merasa perlu memantapkan diri teks suci, bisa menemukan sejumlah yang semuanya menegaskan konsistensi hukum Allah atas alam yang takkan berubah. Salah satunya adalah dalam ayat 33 surah al-Fath “Sunnah Allah, yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tidak akan menemukan perubahan pada sunnah Allah itu.”

Silakan berdoa tapi jangan membuat orang lain tertular. Itu bukan berdoa tapi berdosa.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed