DUH, HABIB LAGI…

Sebenarnya saya bosan membahas habib karena lebih dari 10 artikel sudah saya tulis dan share dengan harapan masyarakat mendudukannya secara proporsional. Tapi setiap kali nama seseorang bergelar habib mencuat ke permukaan, gelar yang juga disandang oleh selaiinnya dibawa-bawa dengan hujatan ekstrem dari sebagian penentang sebagai reaksi terhadap pemujaan lebay dari sebagian pendukung.

Bila seseorang yang dikenal habib naik ke panggung publik dan memasuki arena dialektika politik, maka ia harus siap menerima konsekuensinya secara personal, yaitu pro dan kontra. Ia didukung bahkan dipuja. Itu adalah hal yang wajar bahkan niscaya.

Tapi yang tidak wajar adalah mengubah penyikapan pro dan kontra yang personal menjadi general dan impersonal karena menganggap penyandang gelar itu adalah satu tipe. Yang penting untuk diketahui adalah fakta keragaman kalangan habib atau dzuriyah dalam pemahaman dan pengamalan keagamaan serta afiliasi politiki demi menghindari generalisasi yang irrasional dan tidak fair.

Ada baiknya mengetahui fakta-fakta seputar habib sebagai berikut:

Pertama ; Dulu gelar habib hanya diberikan di kalangan masyarakat Sunni tradisional (NU) kepada sedikit individu terkemuka dalam akhlak dan pengetahhan agama seperti Habib Husin Alidrus Luar Batang, Habib Ali Alhsbsyi Kwitang, Habib Abubakar Asseggaf Gresik, Habib Muhammad Al-Muhdhar Bondowoso yang dimakamkan di Surabaya, Habib Saleh Alhamid Tanggul Jember. Sedangkan lainnya hanya dipamggil Iyek (Sayyid) bshkan sebagian besar ‘di-jambal” alias dipanggil namanya saja tanpa secuilpun perlakuan khusus. Kini setiap dzuriyah, alawi atau iyek dipanggi habib (kadang disingkat beb) atau bahkan menyebut namanya dengan awalan habib, termasuk yang gadungan.

Kedua : Dahulu konon kakek teratas kalangan alawiyin di Hadramaut, yaitu AL-Faqih Al-Muaddam mematahkan pedang di hadapan khalayak sambil mewanti-wanti anak keturunannya agar menghindari konflik politik, sosial dan militer serta berusaha bersikap netral dan menjadi penengah. Sejak itulah, sebagian besar habib terkemuka fokus berdakwah dan cenderung apolitik. Namun, baru beberapa tahun belakangan ini terutama pasca Orba, beberapa habib menghadirkan diri dalan arena politik formal (melalui konstestasi) dan non formal via aksi publik yang berhadapan dengan kubu politik yang berkuasa juga massa pendukungnya.

Ketiga : Dulu hanya kalangan santri atau masyarakat NU yang menghornati habib dan para sayyid atau dzuriyyah. Sedangkan kalangan non NU terutama di kalangan keturunan Arab non hasyimi yang sebagian besarnya tidak mendukung tradisi tahlil dan semacamnya ,tidak menghornati bahkan enggan memanggil dengan sebutan habib karena tak mengakui adanya dzuriyah atau menganggap penghornatan tersebut sebagai kultus. Kini ketika seorang hsbib merangkul kalangan non NU dalam agenda politik agama, kalangan non NU yang wahabi yang sinis terhadap kalangan dzuriyah karena kesamaan agenda politik.

Keempat : Dulu Kalangan alawiyin (sebutan yang fair unruk kalangan dzuriyah) berakidah Ahlussunnah jalur tradisional yang direpresentasi oleh NU. Dengan kata lain, secara keagamaan dan kebudayaan, mereka adalah bagian dari masyarakat NU meski tidak semuanya terdaftar secara resmi sebagai anggota ormas NU. Namiun kini muncul beberapa habib yang berhaluan wahhabi bahkan dikenal sebagai ustadz utama kelompok salafi, ada juga yang menjadi tokoh sentral sebuah partai politik berhaluan Islam di luar NU.

Kelima : Kalangan santri atau umumya masyarakat NU berada dalam situasi dilematis bila seorang habib melakukan perbuatan tercela, atau mengambil sikap kontra terhadap negara atau menganut faham yang berbeda dengan qonun asasi NU meski sebagian terutama generasi muda yang terdidik secara akademis dan berpandangan progresif tak segan-segan menunjukkan penolakan bahkan pengecaman. Mungkin situasi dilematis ini sedang terjadii ketika seorang habib justru berpandangan di luar pola mainstream para habib terdahulu yang sangat dihormati oleh masyarakat NU bahkan merangkul kalangan Islam kontra NU serta terjun ke politik identitas. Meski demikian, kalangan masih biss membuktikan kekuatan sosialnya dengan hadirnya seorang habib yang tak kalah kharismatiknya dengan habib lain di tengah mereka. Tidak hanya itu, habib lebih terlihat sebagai kyai NU ketimbang seorang habib karena pandangan dan sikapnya yang selaras dengan visi dan misi NU.

Terlepas dari itu semua, masyarakat perlu adil dalam menyikapi habib dengan memilah-milah tanpa sanjungan ekstrem dan tanpa hujatan yang berlebihan. Jayalah kebhinnekaan!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed